Posts tagged ‘Wahyu’

Filsafat Ilmu Islami : Manusia Bisa Tahu Yang Benar

ilustrasi

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif (Peneliti Insists)

Manusia normal pada hakikatnya dapat mengetahui kebenaran dengan segala kemampuan dan keterbatasannya. Ia juga bisa memilih (ikhtiyar) dan memilah (tafriq),membedakan (tamyiz), menilai dan menentukan (tahkim) mana yang benar dan mana yang salah, mana yang berguna dan mana yang berbahaya, dan seterusnya.

‘Kemampuan’ yang dimaksud adalah kapasitas manusia lahir dan batin, mental dan spiritual, dengan segala bentuk dan rupanya. Ada pun ‘keterbatasan’ merujuk pada keterbatasan intrinsik manusiawi maupun ekstrinsik non-manusiawi, Keterbatasan yang dimiliki manusia meskipun ada, tidak sampai berakibat gugurnya nilai kebenaran maupun keabsahan atau validitas dari ilmu itu sendiri. Sedangkan kondisi ‘normal’ yakni keadaan seorang yang sempurna (tidak cacat) dan sehat (tidak sakit atau terganggu), baik fisik maupun mentalnya, jasad dan ruhnya, terutama sekali akal dan hati (qalb)-nya.

Maka dalam diskursus Filsafat Ilmu yang Islami, mengetahui (‘ilm) dan mengenal (ma‘rifah) bukan sesuatu yang mustahil. Pendirian kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal-Jama’ah dalam soal ini disimpulkan oleh Abu Hafs Najmuddin ‘Umar ibn Muhammad an-Nasafi secara ringkas: haqa’iqul asyya’ tsabitah, wal-ilmu biha mutahaqqiqun, khilafan lis-sufistha’iyyah (Lihat: Matan al-‘Aqa‘id dalam Majmu‘ Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba ‘ah al-Khayriyyah, 1306 H).

Ditegaskan bahwasanya hakikat, kuiditas atau esensi dari segala sesuatu itu tetap sehingga bisa ditangkap oleh akal minda kita. Hakikat segala sesuatu dikatakan tidak berubah karena  yang  berubah-ubah itu hanya sifat-sifatnya, a’rad, lawahiq atau lawazim-nya saja, sehingga ia bisa diketahui dengan jelas. Sebagai contoh, manusia bisa dibedakan dari monyet, ayam tidak kita samakan dengan burung, atau roti dengan batu. Maka ilmu tentang kebenaran tidak mustahil untuk diketahui oleh manusia sebagaimana ditegaskan dalam  kitab suci al-Qur’an surah az-Zumar (39:9): “…. katakanlah: Apakah sama, orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui?”

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Bagaimana cara, dengan apa atau dari ilmuapa dapat  diketahui dan dipastikan? Meminjam formulasi wacana filsafat modern: How is knowledge possible? Jawaban pertanyaan ini adalah ilmu diperoleh melalui tiga sumber, yaitu persepsi indera (idrak al-hawass), proses kognitif akal yang sehat (ta‘aqqul) termasuk intuisi (hads), dan melalui informasi yang benar (khabar shadiq). Demikian ditegaskan oleh Sa‘duddin at-Taftazani, Syarh al-‘Aqa‘id an-Nasafiyyahcetakan Istanbul: al-Matba’ah al- ‘Uthmaniyyah, 1308 H.

Permasalahan tersebut juga disinyalir dalam al-Qur’an surat an-Nahl (16):78, Qaf (50):37,al-A’raf (7): 179, Ali ‘Imran (3):138, dan masih banyak lagi. Persepsi inderawi yang digunakan manusia untuk memperoleh ilmu meliputi kelima indera (pendengar, pelihat, perasa, penyium, penyentuh), di samping indera keenam yang disebut al-hiss al-musytarak atau sensus communis,yang menyertakan daya ingat atau memori (dzakirah), daya penggambaran (khayal) atau imajinasi, dan daya perkiraan atau estimasi (wahm) (Silakan lihat: Imam al-Ghazali, Ma‘arij al-Quds ila Madarij Ma‘rifat an-Nafs, Beirut, 1978). Sedangkan proses akal mencakup nalar (nazar)dan alur pikir (fikr), seperti dinyatakan oleh Imam ar-Razi dalam kitab Muhassal Afkar al-Mutaqaddimi wa 1-Muta’akhkhirin, cetakan Kairo: al-Matba’ah al-Husayniyyah, 1969. Dengan nalar dan pikir ini manusia bisa berartikulasi, menyusun proposisi, menyatakan pendapat, berargumentasi, melakukan analogi, membuat putusan dan menarik kesimpulan. Selanjutnya, dengan intuisi ruhani seseorang dapat menangkap pesan-pesan ghaib, isyarat-isyarat ilahi, menerima ilham, fath, kasyf, dan sebagainya.

Selain persepsi indera dan proses akal sehat, sumber ilmu manusia yang tak kalah pentingnya adalah khabar sadiq, yakni informasi yang berasal dari atau disandarkan pada otoritas. Sumber khabar sadiq, apalagi dalam urusan agama, adalah wahyu (Kalam Allah dan Sunnah Rasul-Nya) yang diterima dan ditransmisikan (ruwiya) dan ditransfer (nuqila) sampai ke akhir zaman. Mengapa hanya khabar sadiq yang diakui sebagai sumber ilmu? Mengapa tidak semua informasi bisa dan atau harus diterima? Lantas kapan suatu proposisi, informasi, pernyataan, ucapan, pengakuan, kesaksian, kabar mesti ditolak? Apa patokan dan ukurannya? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini pun telah dirumuskan oleh para ulama ahli hadis dan usul fiqh.

Secara umum, khabar atau kabar dalam arti berita, informasi, cerita, riwayat, pernyataan,atau ucapan, berdasarkan nilai kebenarannya dapat diklasifikasikan menjadi kabar benar(shadiq) dan kabar palsu (kadzib). Sebagian ulama bahkan berpendapat pemilihan ini perlu diperjelas lagi dengan kriteria ‘dengan sendirinya’ (bi-nafsihi atau lidzatihi) yakni tanpa diperkuat oleh sumber lainnya, dan ‘dengan yang lain’ (bi-ghayrihi) yakni karena didukung dan diperkuat oleh sumber lain. Khabar shadiq menurut Imam an-Nasafi, al‘Aqa’id dibedakan menjadi dua macam.  Pertama, khabar mutawatir, yaitu informasi yang tidak diragukan lagi karena berasal dan banyak sumber yang tidak mungkin bersekongkol untuk berdusta. Maka kabar jenis inimerupakan sumber ilmu yang pasti kebenarannya (mujib li l-’ilmi d-dharuri). Kedua, informasi yang dibawa dan disampaikan oleh para Rasul yang diperkuat dengan mukjizat. Informasi melalui jalur ini bersifat istidlali dalam arti baru bisa diterima dan diyakini kebenarannya (yakni menjadi ilmu dharuri alias necessary knowledge) apabila telah diteliti dan dibuktikan terlebih dulu statusnya. Keterangan Imam an-Nasafi ini menggabungkan aspek kualitas dan kuantitas narasumber.

Penting sekali diketahui bahwa tidak semua informasi atau pernyataan yang berasaldari orang banyak bisa serta-merta dianggap mutawatir. Mengingat implikasi epistemologisnya yang sangat besar, para ulama telah menetapkan sejumlah syarat sebagai patokan untuk menentukan apakah sebuah kabar layak disebut mutawatir atau tidak. Berkenaan dengan khabar al-wahid atau khabar al-ahad, para ulama juga telah menetapkan persyaratan yang cukup ketat, tidak hanya untuk nara sumbernya, tapi mencakup isi pesan yang disampaikannya, serta cara penyampaiannya. Maka sebuah kabar yang membawa ilmu mesti diklasifikasi juga berdasarkan kualitas sumber-sumbernya, siapa pembawa atau penyebarnya atau orang yang mengatakannya, lalu bagaimana kualifikasi serta otoritasnya (sanad atau isnadnya).

Sikap kritis terhadap sumber dan isi ilmu dalam juga perlu dilakukan terhadap sumber intern masyarakat Islam sendiri. Hal ini dapat dilacak dan sejarah keilmuan Islam sejak kurun pertama Hijriyah. Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq, ‘Umar ibn al-Khattab dan Ali ibn Abi Talib terkenal sangat berhati-hati dalam menerima suatu laporan atau khabar dari para Sahabat mengenai ucapan, perbuatan ataupun keputusan yang ditetapkan Rasulullah SAW. Untuk menepis kemungkinan terjadinya tindakan pemalsuan dan dusta atas nama Rasulullah SAW, para khalifah bukan hanya melakukan pemeriksaan seksama (tatsabbut) dengan cara meminta minimal dua orang saksi (istisyhad) dan menuntut sumpah (istihlaf, bahkan juga mengimbau agar orang tidak gampangan mengeluarkan hadith (iqlal fi r-riwayah). Untuk ini kita bisa merujuk kitab Hujjiyyat as-Sunah karya  ‘Abd al-Ghani ‘Abd al-Khaliq, Washington: International Institute of Islamic Thought, 1986.

Sikap selektif terhadap sumber ilmu yang dikembangkan menjadi metode isnadternyata masih sangat relevan dalam tradisi intelektual di jaman modern ini. Pentingnya metode ini dapat dirujuk kepada pernyataan ulama salaf ‘Abdullah ibn al-Mubarak (w. 181 H 797 M): “Tanpa sandaran otoritasniscaya setiap orang akan berbicara tentang apa saja sesuka-hatinya(lawla l-isnad, laqala man sya’a ma sya’a).” Sedangkan Abu Hurayrah r.a., Ibn ‘Abbas r.a., Zayd ibn Aslam, Ibn Sirin, al-Hasan al-Basri, ad-Dhahhak, Ibrahim an-Nakha’i pun telah berpesan: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dengan siapa kalian berguru dalam soal agama (inna hadza-l-’ilma dinun, fa unzhuru ‘amman ta’khudhuna dinakum). (Imam Abu Hatim Muhammad ibn Hibban, kitab al-Majruhin min al-Muhaddithin wa d-Dhu‘afa’ wa l-Matrukin, cetakan Aleppo: Dar al-Wa’y, 1396 H.

Apabila diekspresikan dalam bahasa epistemologi kontemporer, pesan ini berartibahwa ilmu haruslah dicari dari sumber-sumber yang otoritatif yaitu mereka yang memiliki pandangan hidup Islam dan terpancarkan dari prinsip-prinsip ajaran agama Islam itu sendiri.Maka dapat kita simpulkan bahwa filsafat ilmu itu mencakup arti mengetahui, obyek pengetahuan, sumber ilmu pengetahuan, dan proses mengetahui yang dalam Islam memiliki ciri khas tersendiri dan karenanya secara substantif sangat berbeda dengan filsafat ilmu dalam peradaban-peradaban lain.

Prinsip-prinsip (usul) dan dasar-dasar (mabadi’) filsafat Ilmu dalam Islam telah dirumuskan oleh para ulama Islam terdahulu (salaf) dan golongan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah berasaskan kitab suci al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW sehingga tidak empirisistik hanya mengandalkan persepsi inderawi dan bukan pula rasionalistik mendewakan kemampuan akal belaka, akan tetapi dikuatkan oleh wahyu otentik yang berasal dari Allah swt, Sang Pemilik ilmu.*

http://insistnet.com

Islamic Quantum: Meledakkan IESQ Dengan Langkah Taqwa dan Tawakal (1)

IESQ

Sinopsis Buku : Meledakkan IESQ Dengan Langkah Taqwa dan Tawakal

Ada kecenderungan bahwa IQ, EQ dan SQ saling berhubungan dalam meningkatkan kualitas lahiriyah dan batiniyah seseorang. Dalam peningkatan psikologi dan kepribadian sangat dipengeruhi oleh kesinambungan IQ, EQ dan SQ. Untuk mencapai hal itu ketiga potensi ini tak cukup berdasarkan potensi yang ada melainkan melibatkan aktus atau potensi tertinggi diluar manusia yaitu wahyu . Adapun proses kesinambungan IQ, EQ dan SQ sangat dipengaruhi oleh tingkat ketakwaan dan ketawakalan seseorang. Buku ini akan menguraikan lebih lanjut berbagai keterkaitan IQ, EQ dan SQ. Dan bagaimana usaha mengembangkan kecerdasan tersebut. Lebih dari itu buku ini akan membangkitkan semangat untuk melangkah membuat manajemen menuju kesuksesan program dalam peningkatan keimanan dan menjadi muslim yg berkualitas. 

IESQ

Ilustrasi (Inet)

BAB I

 A. LANGKAH  TAQWA DAN TAWAKAL MENUJU IESQ

 1.Taqwa

Taqwa berasal dari kata “ITTIQA” yang mempunyai dua makna yaitu:

  1. Takut ( kepada Allah )

Bekal Taqwa ini harus ada pada diri orang yang ingin mengabdi dengan ikhlas kepada Allah, sebab jika mempunyai rasa takut kepada selain Allah niscaya baktinya tidak akan sempurna.

  1. Berjaga-jaga atau berhati-hati

Berhati-hati dalam setiap tingkah laku dan amal perbuatan baik yang khusus maupun yang umum serta hanya takut pada Allah semata, contoh menjauhi perkara yang subhat.

2. Tawakal

Tawakal berarti menyerahkan diri secara total dalam melakukan usaha, langkah, gerak dan ikhtiyar pada Allah swt.

 3. Hubungan Antara Taqwa dan Tawakal

Orang bertaqwa harus melengkapi dirinya dengan bekal Tawakal, sebab jika keduanya saling terpisah maka akan menimbulkan sikap was-was penyakit hati, sehingga amalnya itu lebih banyak meninggalkan kerugian.

Jika orang bertawakal tanpa taqwa, maka akan mudahnya tumbul sifat menerima takdir dengan tidak melakukan usaha.

4.  Apa itu IESQ

IESQ adalah suatu kecerdasan yang meliputi kecerdasan intelegensi (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), namun disini yang di sebut dengan IESQ adalah IESQ yang di bangun oleh akal dan hati manusia dengan bimbingan petunjuk dari Allah berupa wahyu.

5.  Hubungan Antara Taqwa, Tawakal dan IESQ

Jika taqwa dan tawakal seseorang sempurna maka kecerdasan intelegensi  (IQ) dan kecerdasan  spiritual (SQ) juga akan sempurna. Dengan sempurnanya IQ dan SQ seseorang akan mampu mengatasi pengaruh lingkungan yang buruk. sebagai contoh Rosulullah adalah orang yang sudah terkenal dengan kejujurannya sehingga mendapat gelar Al-Amin (SQ baik), dan intelegensinya juga baik, contoh dari intelegensi yang begitu tinggi ialah memutuskan peletakan hajar Aswad yang keputusannya memuaskan seluruh kabilah yang sebelumnya berselisih siapa yang harus meletakkannya. Bahkan diantara mereka hampir terjadi pertumpahan darah (IQ baik)

IESQ-2

Ilustrasi (Inet)

B. MENINGKATKAN KECERDASAN AKAL (IQ)

Sesungguhnya ketika manusia kehilangan akal atau tidak berfungsi akalnya. Maka hilanglah kewajiban dirinya dalam menjalankan perintah agama. Hal ini adalah salah satu bukti keadilan Allah bagi para hambanya karena ketika seorang kehilangan akal ia tidak akan bisa berfikir kebaikan sedikit pun, sehingga orang yang sebenarnya bisa berfikir tentang kebaikan lantas tidak melakukan kebaikan sering di sebut sebagai orang yang tidak berakal.

Umar bin khattab ra. berkata: “Mahkota seseorang adalah akalnya, derajat seseorang adalah agamanya dan harga diri seseorang adalah akhlaknya”, betapa pentingnya akal dalam kehidupan kita sebagai alat persiapan seorang mukmin dalam menjalani kehidupannya dan demi menyempurnakan serta menjaga akal kita agar bisa berfungsi secara optimal maka kita harus menjadikan taqwa sebagai bekal hidup.

“Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Qs. Al-Baqarah : 197)

1. Apakah akal itu dan apa hubungannya dengan intelektual?

Sayyid Hossein Nasr menyebut akal sebagai proyeksi atau cermin dari hati, tempat keyakinan dan kepercayaan manusia. Dengan itu akal bukan hanya instrument untuk mengetahui, melainkan juga menjadi wadah bagi “penyatuan” Tuhan dan manusia.

Teori akal aktif dari Ibnu Sina dan Al-Kindi dapat menjelaskan bahwa dalam diri manusia, akal bersifat potent yang kemudian mewujud dalam bentuk jiwa (spirit). Menurut Rhenis Meister Echart: “Dalam jiwa seseorang terdapat sesuatu yang tidak di ciptakan dan tidak di bentuk oleh manusia, sesuatu itu adalah intelek”. Akal mempunyai nama yang menonjol:

a. Al-lub karena merupakan cerminan kesucian yang aktifitasnya berzikir dan berfikir

b. Al-hujah karena dapat menunjukkan bukti-bukti yang kuat dan menguraikan hal-hal yang abstrak

c. Al-Hijr karena akal mampu mengikatkan keinginan seseorang hingga membuatnya dapat menahan diri.

d. Al-Nuha karena akal merupakan puncak pengetahuan, kecerdasan dan penalaran

2. Mungkinkah akal manusia itu di kembangkan?

“Dan janganlah kamu menyerahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya.” (Qs. Al-Nisa’/4: 5)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa manusia itu mengalami perkembangan baik tubuh maupun kemampuan berfikirnya (kecerdasan akalnya). Akal manusia berkembang dari tidak bisanya ia menalar menjadi bisa ketika dewasa. oleh karena itu kecerdasan akal seseorang itu bisa dipersiapkan dengan pembinaan padanya sejak kecil. Menurut para ahli, otak manusia / kecerdasan intelektualitas itu bisa diperbaiki begitu pula dengan kecerdasan emosi dan spiritual bisa dibenahi hingga tua sekalipun. Karena memang kemampuan akal dan potensi itu dikembangkan akibat banyak pergaulan. Jika kita menginginkan akal kita bisa berkembang dengan baik, kita harus menyediakan media yang baik serta mendukung perkembangan akal itu sendiri yang mana media tersebut adalah makanan, lingkungan dan ajaran agama. Meskipun demikian perkembangan tersebut tetap ada puncaknya, ia tidak bisa berkembang tapi malah menurun fungsinya yaitu ketika seseorang memasuki usia pikun, sebagaimana firman-Nya:  “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu lemah (kembali)dan beruban. Dia menghendaki apa yang menjadi kehendaknya dan Dialah yang maha mengetahui lagi maha kuasa.”  (Qs. Ar-Ruum : 54)

3. Mengoptimalkan kinerja akal

Beberapa hal yang di lakukan untuk mengoptimalkan dan menyempurnakan akal seseorang :

a.  Sebenarnya prinsip makanan 4 sehat 5 sempurna bukanlah yang terbaik buat tubuh manusia, yang terbaik adalah prinsip makanan yang datang dari ajaran islam yaitu halalan thaybah, karena prinsip ini memperhatikan aspek lahiriyah maupun ruhiyah. Makanan halalan thaybah inilah yang senantiasa di konsumsi oleh para utusannya maka wajar jika mereka adalah orang yang pikirannya jernih sehingga bisa berfikir secara sehat.

b. Belajar dengan cara yang benar. Sesungguhnya langkah yang salah akan berakhir dengan penyesalan sementara langkah yang benar akan mendatangkan kesudahan yang baik walaupun mungkin jalan yang dilalui itu penuh dengan onak dan duri. “Ilmu itu hanya bisa dikuasai dengan belajar, kecerdikan juga begitu, barang siapa mengajarkan kebaikan ia mendapatkannya sedangkan barang siapa menghindari kejelekan ia akan terjaga dirinya.” (HR. Al Tabrani dan Darulqunthy)

peta-sukses-belajar2

Ilustrasi (Inet)

Adapun ciri-ciri belajar yang benar adalah:

1. Memiliki kehendak yang kuat

Tanpa adanya kemauan yang kuat tak akan mungkin bisa maju ataupun meraih apa yang menjadi keinginan kita, dengan demikian langkah awal dalam meraih cita-cita adalah bagaimana kita bisa menumbuhkan kemauan yang kuat dalam diri kita. Hilangnya kemauan yang kuat akan menyebabkan seseorang mengalami kegagalan. Cara menumbuhkan kemauan yang kuat adalah dengan menumbuhkan cita-cita yang tinggi.

2. Disiplin

“Kebanyakan mereka yang sukses adalah mereka  yang memiliki disiplin yang tinggi dan yan gagal adalah yang tidak punya disiplin.” (Kidsam)

Hilangnya rasa disiplin adalah pertanda lepasnya kesuksesan dari tangan kita.

3. Berani

“Yang menyebabkan seorang pejuang mengalami kekalahan adalah ketidakberanian melangkahkan kaki, padahal dia berada dalam kebenaran.”(Kidsam)

Berani bersaing dan menghadapi segala tantangan yang menghalangi langkahnya adalah kunci pertama membuka keberhasilan.

“Ingatlah seumur hidupmu bahwa layang-layang hanya dapat naik karena menentang angin bukan mengikuti angin.” (Scopenhauer)

Orang yang takut melangkah karena takut gagal tidak akan merasakan manis dan nikmatnya keberhasilan.

4. Rajin, Tekun dan Ulet

“Carilah rizqi didalam tanah yang tersembunyi.” (HR Al-Tabrani). Mencari sesuatu yang tersembunyi adalah suatu hal yang sangat sulit,  maka yang dibutuhkan adalah kesabaran dan ketekunan untuk meneliti dan menajamkan pandangan untuk mengamati setiap sudut yang ada. Ketekunan akan menghantarkan seseorang menjadi ahli atas apa yang ia tekuni sehigga jalan menuju kesuksesan akan terpampang lebar dihadapanya dan ketekunan mendatangkan kecintaan Tuhan. “Sesunguhnya Allah mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan dengan gigih dan menekuninya.” (H.R.Al-Baihaqi, Abu yala)

5. Sungguh-sungguh

“Hai manusia sesungguhnya kamu telah berkerja sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemuinya.” (Qs. Al-insyiqoq : 186)

Jika ingin memperoleh hasil terbaik dalam pekerjaan kita dituntut untuk melakukanya dengan baik dan mencurahkan segenap pikiran serta potensi.

6. Bertahap (memulai dari yang mudah)

“Jangan kamu memulai pekerjaan dari yang sulit karena akan membebanimu, tapi mulailah dari yang paling mudah niscaya dirimu menjadi lebih siap untuk menghadapi sesuatu yang lebih sulit tingkatannya.” (Kid san)

7. Tidak berlebih-lebihan dalam belajar

Akal manusia ibarat mesin komputer yang mempunyai batas tertentu saat sudah mencapai batas maksimal, jika dipaksa untuk berkerja bukan bertambah kemampuan kinerjanya tapi justru akan mengalami penurunan bahkan error atau tidak mau berkerja lagi. kesalahan yang banyak dilakukan orang didunia adalah memaksakan diri yang berlebihan akan kerja tubuhnya sehinga melampui batas. (H.R Bukhori Muslim)

8. Continue (rutin)

Seseorang yang memiliki sikap ini sebenarnya telah mendirikan benteng untuk mengawal imannya dari gangguan musuh, sebaliknya tanpa sikap ini seseorang telah membuka satu pintu kepada musuh untuk masuk kedalam hati dan merusak keimananya, sikap istimrar bertindak sebagai benteng yang dapat memelihara dan menyelamatkan iman dari musuh, nafsu dan syetan. Siapa yang menerapkan sikap istimrar dalam hidupnya maka akan menjadikan dirinya dicintai Allah. Selain itu kecerdasan otak pun akan mengalami peningkatan karena diasah secara rutin.

9. Mengambil pelajaran dari setiap kejadian

Abu Said ra berkata, bersabda Nabi Muhammad SAW: “Bukanlah orang cerdik kecuali yang pernah tergelincir dan bukanlah orang yang bijaksana kecuali yang berpengalaman.” (H.R Tirmidzi)

Langka yang terbaik dalam meningkatkan kecerdasan seseorang adalah senantiasa memikirkan dan mengambil pelajaran dan hikmah atas setiap kejadian yang dilihatnya. Seorang ahli berkata: “Semua masalah membutuhkan pemikiran yang sehat sedangkan pemikiran yang sehat membutukan pengalaman.”

10. Bertanya apabila tidak tahu

Dengan tidak mau bertanya akan mengakibatkan kebingungan sehingga akan mengganggu kinerja otak dan mengakibatkan tidak bisa berfikir dengan baik.

11. Tidak malas untuk mengulangi

” Sesungguhnya kesuksesan yang hakiki tak akan pernah dinikmati oleh orang yang malas. ” (Kidsam)

Saat mengulangi apa yang pernah kita dapatkan, rasa malas dan bosan akan timbul, untuk menghilangkannya maka kita harus pandai menciptakan suasana dan metode yang baru. Menanamkan malas dalam kebaikan tidak layak ada dalam diri seorang muslim.

12. Mencari waktu yang cocok untuk belajar

Pemilihan waktu yang tepat akan mengoptimalkan fungsi akal. contoh: kita di anjurkan untuk sholat jahajud sebagai ibadah tambahan dimalam hari kenapa tidak siang hari saja? salah satu hikmahnya adalah agar lebih khusyu’ sehingga tidak mengganggu kerja yang dilakukan pada siang.

13. Pantang menyerah

” Untuk mendapatkan sebutir mutiara kadang kita perlu menyelam seribu kali ke dasar lautan.” (Kidsam)

Orang yang mudah menyerah takkan pernah menjadi orang yang sukses dalam hidupnya. Hanya dengan keteguhan hatilah orang akan dapat meraih sukses. Kita harus mempunyai prinsip pantang menyerah walaupun hal tersebut terasa sulit.

14. Banyak membaca

Dengan banyak membaca maka saraf otak akan terlatih, terkondisi, dan terpola sehingga mempercepat kecepatan ia memberi respon sebuah fenomena. Meskipun demikian yang perlu diingat disini adalah bahwa yang perlu dibaca adalah hal-hal yang mendatangkan manfaat bukan hal-hal yang mendatangkan keburukan. Nabi Isa berkata: “Alangkah banyak pohon kayu dan tidak semuanya berbuah, alangkah banyak ilmu tapi tak semua berfaedah.”

15. Meninggalkan yang tidak berguna bagi dirinya

Membiasakan diri melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, akan melatih otak untuk senantiasa berfikir dan berkerja secara positif, kebiasaan ini akan merangsang intelegensi seseorang untuk berkembang secara positif sehingga akan menjadi cerdas, sementara melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya akan melemahkan otak sehingga menjadi malas melangkah.

Ketika orang mmiliki bekal takwa dan tawakkal yang sempurna ia akan selalu meninggalkan yang tidak berguna bagi dirinya karena sikap hati-hati dirinya agar hal tersebut tidak menyeret dirinya ke perbuatan durhaka yang lebih bsar lagi.

16. Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada sementara orang lemah adalah mereka yang malas-malasan

17. Selalu berprinsip hari ini adalah lebih baik dari hari kemarin

Orang yang pandai adalah mereka yang selalu bisa menjadi lebih baik dari keadaan yang sebelumnya. Sama apabila lebih buruk dari kemarin adalah sebagai indikasi ketidak cakapan seseorang dalam bergulat dengan hari yang akan dijalaninya di saat ini.

Akal akan selalu terpacu  untuk berfikir kreatif yaitu mencari sesuatu yang bermanfaat buat dirinya agar bisa lebih baik dari keadaan sebelumnya, dan hal inilah yang menjadikan akalnya bertambah, kemampuan kinerjanya meningkat dalam menganalisis sebuah kejadian.

18. Skala prioritas

“Orang yang pandai membuat skala prioritas akan lebih mudah menuju puncak kesuksesan. ” (Kidsam)

Manusia didunia itu memiliki banyak keinginan dan kepentingan sementara yang mereka inginkan adalah tercapainya semua itu, padahal kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi adalah adanya ketidak sempurnaan dan keterbatasan diri, sehingga tidak semua keinginan ini dapat dikabulkan.

19. Selalu optimis

Rasa pesimis adalah awal sebuah kegagalan, sedangkan rasa optimis akan memberikan sebuah kekuatan jiwa untuk meraih sebuah keberhasilan .

Rasa optimis yang benar dalam diri seseorang hamba adalah sikap tenang diri untuk meraih kesuksesan karena yakin akan kemudahan dan pertolongan Allah, kepercayaan itu tak akan muncul dalam diri seorang hamba kecuali dia bertawakal pada-Nya.

20. Istirahat yang cukup

Manusia adalah mahluk yang bisa mengalami kelelahan dan jika kelemahan ini sampai pada titik puncak / jenuh, maka manusia tidak akan  dapat melakukan aktifitasnya sama sekali, tubuh yang lelah akan menjadikan otak tidak bisa bekerja secara baik, sehingga kemampuan berpikirpun tidak sempurna dan untuk memulihkan hal itu, dia butuh istirahat yang cukup.

4. Cara menyempurnakan akal

Kerja otak itu ibarat mesin komputer yang terdiri dari hardware maupun software yang keduanya dapat di-up-grade tapi dalam meng-up–grade-nya juga tetap terpengaruh dasarnya, jika ia cuma Pentium 3 maka bila di-up-grade bisa di ubah setara dengan Pentium 4.

Kecerdaan akal kita juga akan ditambah oleh Allah jika kita senantiasa membersikan diri dari dosa dan meningkatkan takwa dan tawakal.

pdca-plan-do-check-act

Ilustrasi (Inet)

C. MEMBUAT MANAJEMEN MENUJU KESUKSESAN PROGRAM

Adapun cara bagaimana menyusun  program untuk meraih cita-cita.

1. Perencanaan (Planning)

Suatu langkah yang sudah dirancangkan sebelumnya akan mnghasilkan suatu yang lebih baik, dengan adanya perencanaan yang matang, maka program akan dapat berjalan rapi, terarah dan teratur sehingga memungkinkan hasilnya pun baik dan sempurna. Berikut adalah langkah-langkah perencanaan:

a. Menentukan tujuan

b. Musyawarah dan istikharah

c. Menentukan pelaksanaan

d. Membuat draf langka kerja

2. Pengkoordinasian (Organizing)

Jika kita berhasil mengkoordinasi semua potensi dan sumber daya yang ada maka kita akan bisa menyusun dan menempatkan pada tempatnya masing-masing sesuai dengan jenis dan macam potensi dan sumber daya yang ada, dan disini kita akan dapat menjalankan rencana kita dengan teratur dan rapi.

Adapun kita bisa mengkoordinasikan segala potensi dan sumber daya yang ada.

  1. Mengenali potensi dan sumber daya yang ada
  2. Pembagian tugas
  3. Menyiapkan saran dan prasarana pendukung
  4. Mengatur pelaksanaan

3. Pelaksanaan (Actuating)

Sebaik apapun sebuah perencanaan dan pengkoordinasian dibuat jika tidak pernah dilaksanakan maka akan sia-sia belaka. Oleh karena itu jika kita ingin mendapatkan hasil yang baik dari apa yang sudah kita rencanakan dan koordinasikan maka program yang ada harus dilaksanakan.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan antara lain :

  • § Saat bekerja sendirian, minimal kita harus :

a)      Disiplin

b)      Bersungguh-sungguh

c)      Bertanggungjawab

d)     Tegar dan pantang menyerah

  • § Saat bekerja dengan orang lain, minimal kita harus :

a)      Saling percaya

b)      Saling menghargai dan memahami

c)      Kerjasama dan tolong-menolong

d)      Saling melengkapi

e)      Saling menasehati

f)       Diserahkan kepada para ahlinya

g)      Mengikuti yang baik

4. Pengawasan (Controlling)

Didunia ini tidak ada manusia yang bersih dari kesalahan walaupun dia orang pandai sekalipun, sehingga ada sebuah istilah “bahkan orang terpandai pun bisa berbuat salah”. Jika kita sadar akan hal itu maka dalam pelaksanaan pekerjaan itu perlu adanya sebuah pengawasan.

Manfaat pengawasan:

1) Sebagai kontrol

2) Sebagai tempat konsultasi

3) Sebagai motifator

4) Pertanggungjawaban

Perlu kita sadari, bahwa setiap apa yang kita lakukan itu ada nilai pertanggung-jawaban, kita kelak akan dimintai pertanggung jawaban terhadap segala sesuatu yang kita lakukan didunia sehingga jangan sampai kita menyesal dan rugi. “kelak akan dituliskan persaksian mereka akan dimintai pertanggung-jawaban”.

5. Evaluasi (Evaluation)

Jika kita ingin keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya, maka kita dituntut untuk sering melakukan evaluasi namun apa gunanya melakukan evaluasi jika hanya sekedar evaluasi tanpa ada tindakan lanjut untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. “Maka barang siapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan tidaklah ada kehawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Q.S.Al-Araaf: 35)

PerfModel

Ilustrasi (Inet)

 D. MENGENDALIKAN EMOSI UNTUK MEMBANGKITKAN KECERDASAN EMOSIONAL (EQ)

            Sesungguhnya manusia diberi potensi emosi yang bisa mendorong diri ke perbuatan jelek dan baik, dengan adanya emosi diri inilah yang menyebabkan manusia bersemangat, makan jika lapar, mempunyai rasa cinta, dll. Maka yang terbaik adalah mengendalikan dan mengarahkan agar ia menjadi termotivasi kearah yang lebih baik, jika ia mampu berbuat demikian maka ia memiliki kecerdasan emosional yang baik. Beberapa hal yang inysa Allah bermanfaat untuk mengendalikan emosi seseorang.

1. Bersikap tenang

Hal-hal yang dapat mendatangkan ketenangan:

a. Dzikrullah

b. Merasakan kehadiran-Nya

c.Yakin akan pertolongan-Nya

2. Berfikir sebelum bertindak

Beberapa hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan jika hendak bertindak:

a. Mempertimbangkan haram dan halalnya

b. Mempertimbangkan manfaat dan mahdhorot-nya

c. Memilih yang ringan diantars pilihan yang ada sementara tidak menyalahi syariat

3. Memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri

Salah satu tanda orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik (EQ) adalah memperlakukan orang lain sebagaimana dirinya ingin diperlakukan, maka kita harus melihat jauh kedepan bagaimana seandainya yang mengalami hal itu adalah diri kita sendiri, maka dengan hal ini akan senantiasa berusaha untuk tidak berbuat dholim kepada orang lain.

4. Sabar

Pepatah mengatakan . “Kesabaran adalah kunci segala kesuksesan, tawakkal kepada Allah adalah utusan kesuksesan, barang siapa tidak mau bersabar dalam menghadapi penderitaan hidup, maka kesusahan akan menerpa sepanjang masa”.

5. Menundukkan hawa nafsu

Apabila nafsu belum tunduk pada kebenaran, maka ia akan mendorong manusia untuk berbuat jahat dan itu berakibat semua kecerdasannya akan hilang, sehingga tingkah laku mereka tak ubahnya seperti hewan.

Beberapa hal yang mampu menundukkan hawa nafsu:

a. Berpegang teguh pada kebenaran

b. Mendirikan sholat

c. Puasa (shaum)

iq_eq_sq

Ilustrasi (Inet)

 E. MENGUATKAN SANDARAN VERTIKAL UNTUK MEMBANGKITKAN KECERDASAN SPIRITUAL (SQ)

Kondisi sesorang itu berpengaruh terhadap kemudahan dia dalam menjalani kehidupan jika spiritualnya baik maka ia menjadi orang yang pandai dan cerdas dalam kehidupan, untuk itu yang terbaik bagi kita adalah memperbaiki hubungan kita kepada Allah SWT yaitu menguatkan sandaran vertikal kita denga cara memperbesar takwa dan menyempurnakan tawakkal serta memurnikan pengabdian kita pada-Nya, dengan cara:

1. Meluruskan niat

Niat ini berpengaruh terhadap langkah yang akan ditempuh selanjutnya, jika niatnya baik mendatangkan kemudahan dan pertolongan Allah SWT dan begitu juga sebaliknya.

2. Berdoa sebelum melangkah

Hukum Newton mengatakan bahwa ada aksi ada reaksi, dan dalam melangkah biasanya ada 2 reaksi yaitu reaksi yang mendukung dan yang satu menjadi penghalang. Orang baru bisa meraih kesuksesan dalam langkahnya apabila ia bisa malewati semua faktor yang menjadi penghalang. Untuk itu kita perlu berdoa sebelum melangkah agar kita mendapatkan kemudahan dan terhindar dari keburukan.

3. Menjaga keimanan dan kebersihan hati

Suatu indikator bahwa seseorang memiliki kecerdasan spiritual baik (SQ) apabila dirinya memiliki keimanan yang kokoh, serta hatinya bersih dari segala penyakit hati dan bersih dari segala keinginan yang buruk. Maka untuk menjaga ke puncak spiritual seseorang dituntut untuk meneguhkan keimanan yang ada didalam dada serta senantiasa membersihkan dan menjaga kebersihannya. Dengan cara, meninggalkan maksiat, bertaubat, tidak meremehkan suatu kebaikan walaupun kelihatan kecil dan tetap berada diatas jalan syariat islam.

4. Memperbanyak tafakkur

“Tafakkur adalah cermin yang akan memperlihatkan kepadamu kebaikan dan keburukanmu.” (Al Fudhail bin iyyad)

Jika seseorang ingin mencapai fadilah tafakkur maka hendaknya berfikir dalam lima macam yaitu :

  1. Memikirkan ayat-ayat bukti kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
  2. Memikirkan nikmat pemberian Allah SWT .
  3. Memikirkan pahala yang dijanjikan Allah SWT.
  4. Memikirkan siksa dan hukuman Allah SWT.
  5. Memikirkan yang diridhai dan dimurkai oleh Allah SWT.

5. Menyandarkan pilihan pada pilihan Allah SWT

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah SWT mengetahui,s edangkan engkau tidak mengetahui.” (Q.S Al-baqorah: 216)

Adapun wujud nyata bahwa seseorang itu menjatuhkan pilihan kepada apa yang menjadi pilihan Allah SWT adalah apabila dirinya yakin akan pertolongan Allah SWT  dan pasrah serta rela terhadap keputusan-Nya.

intelligence

Ilustrasi (Inet)

 F. BELAJAR DARI SIFAT RASUL UNTUK MERAIH IESQ YANG SEMPURNA

“Sesungguhnya telah ada dalam diri rasul itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan (kedatangannya) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah SWT.”  (Q.S.Al-ahzab: 21)

Sesungguhnya didunia ini tidak ada orang yang memiliki kecerdasan lahir dan batin yang lebih sempurna dari yang dimiliki oleh para rasul, bahkan kecerdasan lahir dan batin (Fathanah) ini merupakan salah satu sifat wajib yang harus dimiliki  sebagai penyampai ajaran Allah SWT, jika kita ingin memiliki kecerdasan seperti kecerdasan para rasul maka kita harus mempunyai tiga sifat yaitu:

1. Shiddiq (Benar)

Langkah untuk menjadi shidiq adalah:

a. Membenarkan kebenaran

b. Sabar dalam kebenaran

c. Istiqoma dalam kebenaran

d.proporsional (berbuat dan berbicara yang haq serta tepat)

2. Amanah (Dapat dipercaya)

            Semakin mendekati zaman akhir maka yang sangat sulit dicari adalah orang yang bisa dipercaya dan yang banyak adalah orang yang suka berdusta, orang akan saling mencaplok dan mengingkari janji-janji manis yang telah dibuatnya, amanah yang dipikulnya disia-siakan dan tidak diperdulikan karena yang mereka pikirkan adalah kesenangan belaka. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah SWT dan rasul dan jangan kamu menghianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (Q.S.Al-anfal: 27)

3. Tabligh (menghantarkan sesuatu sampai pada tujuannya)

            Kalau seseorang sudah bisa mnghantarkan segala sesuatu pada tempat tujuannya maka dialah orang yang cerdas dengan sempurna. “Mewujudkan keadilan adalah sesuatu yang sulit tapi orang yang mencintai keadilan akan selalu berusaha untuk adil.” (Kid sam).

Setelah seseorang bersifat tabligh maka dia juga sudah mampu menerapkan amanah sehingga tidak hanya sekedar teori tapi kebijaksanaan, maka ia bisa dikatakan cerdas lahir batin dan orang seperti inilah yang akan meraih kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

=================================================================================

Sumber:
http://catalog.sunan-ampel.ac.id
http://media-islam.or.id
http://discus.web.id

Kecerdasan Ketiga ala Ghazali

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Imam Al-Ghazali (450 H/1058M—505 H/1111M) dan beberapa sufi lainnya sesungguhnya sudah lama memperkenalkan model kecerdasan spiritual dengan beberapa sebutan, seperti dapat dilihat dalam konsep Mukasyafah dan Ma’rifah.

Menurut Al-Ghazali, kecerdasan spiritual dalam bentuk mukasyafah (penyingkapan langsung) dapat diperoleh setelah roh terbebas dari berbagai hambatan.

Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan duniawi dan berbagai penyakit jiwa, termasuk perbuatan dosa dan maksiat. Mukasyafah merupakan sasaran terakhir para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan meletakkan keyakinannya di atas kepastian.

Kepastian yang mutlak tentang kebenaran hanya mungkin dapat dicapai ketika roh tidak lagi terselubung khayalan dan pikiran. (Lihat mukadimah Ihya’ Ulumuddin).

Kecerdasan spiritual, menurut Al-Ghazali, dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan kata-kata yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, diturunkan Allah kepada nabi-Nya untuk disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk-Nya. Sedangkan, ilham hanya merupakan pengungkapan (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan langsung masuk ke dalam batin seseorang.

Al-Ghazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali, tetapi diperuntukkan kepada siapa pun yang diperkenankan oleh Allah. Menurut dia, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati, bersih, dan lembut. Dari sini, Al-Ghazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi.

Ilham berada di wilayah supra consciousness, sedangkan intuisi hanya merupakan sub-consciousness. Allah SWT sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah itulah yang disebut ‘ilm al-ladunni oleh Al-Ghazali. (Lihat karyanya, Risalah al-Ladunniyyah).

Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya tidak akan menjadi pandai karena kepandaian itu dari Allah. Al-Ghazali mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip surah Al-Baqarah/2: 269. “Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Alquran dan Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Al-Ghazali mengakui adanya hierarki kecerdasan, dan hierarki ini sesuai dengan tingkatan substansi manusia.

Namun, ia menyatakan, hierarki ini disederhanakan menjadi dua bagian, yaitu kecerdasan intelektual yang ditentukan oleh akal (al-aql) dan kecerdasan spiritual yang diistilahkan dengan kecerdasan rohani, ditetapkan dan ditentukan oleh pengalaman sufistik.

Agak sejalan dengan Ibnu Arabi yang menganalisis lebih mikro lagi tentang kecerdasan spiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat ilmu pengetahuan ini, yaitu pengetahuan kudus (ilm al-ladunni), ilmu pengetahuan misteri-misteri (ilm al-asrar), dan ilmu pengetahuan tentang gaib (ilm al-gaib).

Ketiga jenis ilmu pengetahuan tersebut tidak dapat diakses oleh kecerdasan intelektual (Ibnu Arabi, Futuhat Al-Makkiyyah, Juz IV, hlm 394).

Tentang kecerdasan intelektual, Ibnu Arabi cenderung mengikuti pendapat Al-Hallaj yang menyatakan intelektualitas manusia tidak mampu memahami realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah manusia mampu memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas.

Al-Ghazali dan Ibnu Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar aksesibilitas kecerdasan spiritual. Menurut Al-Ghazali, jika seseorang mampu menyinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada dirinya, maka yang bersangkutan dapat ‘membaca’ alam semesta (makrokosmos/al-alam al-kabir).

Kemampuan itu merupakan anak tangga menuju pengetahuan tertinggi (makrifat) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta, menurut Al-Ghazali dan Ibnu Arabi, merupakan ‘tulisan’ atau bagian dari ayat-ayat Allah.

Al-Ghazali menuturkan, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi kemampuan mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara lain, dengan kemampuan membaca alam semesta tadi.

Fenomena kenabian bukanlah sesuatu yang supernatural, yang tidak memberi peluang bagi manusia dengan sifat-sifatnya untuk menerimanya. Dengan pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, kenabian menjadi fenomena alami.

Keajaiban yang menyertai para rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek integral kenabian, tetapi hanyalah alat pelengkap alam mempercepat umat meyakini risalah para rasul itu.

Bahkan, menurut Al-Ghazali, semua manusia pada dasarnya memenuhi syarat menjadi nabi, namun Allah menentukan hanya sebagian kecil di antaranya yang dipilih. Seruan penggunaan model-model kecerdasan di dalam Alquran tidak secara parsial. Keunggulan manusia terletak pada kemampuannya menyinergikan ketiga kecerdasan tersebut.


Hubungan IQ,EQ dan SQ (kr-cahelek.blogspot.com)

Seseorang yang hanya memiliki kecerdasan intelektual (IQ) belum tentu memiliki kejujuran, kesabaran, dan ketaatan, karena sifat-sifat ini lebih ditentukan kecerdasan yang lebih tinggi, yakni kecerdasan emosional (EQ) atau kecerdasan spiritual (SQ).

Sebaliknya, EQ dan SQ tanpa dilengkapi IQ juga tidak akan banyak berarti karena kedua kecerdasan yang disebut pertama sesungguhnya merupakan kelanjutan dari kecerdasan IQ. Seseorang tidak akan sampai pada kecerdasan EQ dan SQ tanpa melewati kecerdasan IQ.

Di dalam kehidupan bermasyarakat, ketiga model kecerdasan itu sangat dibutuhkan terutama di kalangan pemimpin masyarakat dan lebih khusus lagi pemimpin perusahaan.

Menurut beberapa survei ahli manajemen, tingkat prestasi IQ yang dimiliki seorang manajer tidak berbanding lurus dengan tingkat prestasi perusahaan yang dipimpinnya. Seorang manajer dituntut memiliki kecerdasan ekstra berupa kecerdasan kedua (EQ) dan ketiga (SQ).

Sebagai pribadi Muslim, sulit dibayangkan akan sukses menjadi abid (hamba) dan khalifah yang sukses tanpa memiliki secara seimbang ketiga model kecerdasan tersebut. Manusia paripurna (insan kamil) sesungguhnya tidak lain ialah orang yang mampu memadukan secara simultan ketiga kecerdasan tersebut di dalam dirinya.

Di sinilah kekhususan Al-Ghazali jika dibandingkan dengan Ibnu Arabi. Al-Ghazali masih tetap berpikir realistis di dalam mengembangkan pendapatnya. Ia masih tetap memandang penting kecerdasan ketiga atau apa pun namanya itu tetap dibumikan.

Ia mencela para sufi yang tidak realistis memandang kenyataan masyarakat. Mungkin itulah sebabnya ia dikategorikan sebagai penganut tasawuf akhlaqi. Berbeda dengan Ibnu Arabi yang dikategorikan sebagai penganut tasawuf falsafi.

Al-Ghazali mencela orang-orang yang sibuk dengan urusan sunah dan melalaikan ibadah fardhu, mengabaikan formalitas ibadah untuk substansi ibadah, mengabaikan substansi ibadah demi formalitas ibadah, dan waspada terhadap yang syubhat tetapi terjebak di dalam hal yang haram.

Al-Ghazali juga mencela para ilmuwan yang tidak memedulikan yang lain kecuali hanya ilmu, dengan kata lain ilmu untuk ilmu. Seolah-olah tidak ada tempat nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

Al-Ghazali mencela ahli tasawuf yang sibuk dengan hakikat tetapi mengabaikan syariat, sibuk membahagiakan batinnya tetapi mengabaikan keluarga dan masyarakatnya, asyik dengan akhiratnya dan mengabaikan dunianya, mereka memuji prestasi spiritualnya lantas mengasingkan diri dengan orang lain, dan menganggap ilmu tasawuf paling istimewa dan paling benar, sibuk berpolemik soal hukum tapi tidak menghargai waktu, serta sibuk memperbanyak hukum dan peraturan tetapi semakin sedikit mengamalkannya.

Dalam soal muamalah, Al-Ghazali juga mencela ahli muamalah yang teperdaya karena banyak bermain di wilayah syubhat, sibuk menjalin hablun minannas tetapi melupakan hablun minallah, sibuk mengumpul harta tetapi tidak teliti menghitung zakatnya, dan sibuk melakukan inovasi tetapi mengabaikan tanggung jawabnya sebagai khalifah.

republika.co.id

Riwayat Ringkas 25 Nabi dan Rasul dalam Al-Qur’an dan Hadits

Etimologi

Kata “nabi” berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”; karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ semestinya punya penglihatan ke tempat yang jauh (prediksi masa depan) yang disebut nubuwwah.

Nabi (bahasa Arab: نبي) dalam agama Islam adalah laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah swt, tetapi dia tidak punya kewajiban untuk menyampaikannya kepada umat tertentu atau wilayah tertentu.

Sementara, kata “rasul” berasal dari kata risala yang berarti penyampaian. Karena itu, para rasul, setelah lebih dulu diangkat sebagai nabi, bertugas menyampaikan wahyu dengan kewajiban atas suatu umat atau wilayah tertentu.

Jadi, Rasul (Arab:رسول Rasūl; Plural رسل Rusul) adalah seorang laki-laki yang mendapat wahyu dari Allah dengan suatu syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya dan mengamalkannya. Setiap rasul pasti seorang nabi, namun tidak setiap nabi itu seorang rasul. Jadi jumlah para nabi itu jauh lebih banyak ketimbang para rasul.

Menurut syariat Islam jumlah Nabi ada 124.000 orang, sedangkan jumlah Rasul ada 312 orang berdasarkan hadits riwayat At-Turmudzi:

Dari Abi Zar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312)” [Hadits Riwayat At-Turmuzy]

Menurut Al-Qur’an Allah swt telah mengirimkan banyak nabi kepada umat manusia. Bagaimanapun, seorang rasul memiliki tingkatan lebih tinggi karena menjadi pimpinan ummat, sementara nabi tidak harus menjadi pimpinan. Di antara rasul yang memiliki julukan Ulul Azmi adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Mereka dikatakan memiliki tingkatan tertinggi dikalangan rasul. Dari semua rasul, Muhammad saw sebagai ‘Nabi Penutup’ yang mendapat gelar resmi di dalam Al-Qur’an Rasulullah adalah satu-satunya yang kewajibannya meliputi umat dan wilayah seluruh alam semesta ‘Rahmatan lil Alamin’.

Percaya kepada para Nabi dan para Rasul merupakan Rukun Iman yang keempat dalam Islam.

Perbedaan Nabi dan Rasul

Berikut ini adalah perbedaan Nabi dan Rasul:
1. Jenjang kerasulan lebih tinggi daripada jenjang kenabian.
2. Rasul diutus kepada kaum yang kafir, sedangkan nabi diutus kepada kaum yang telah beriman.
3. Syari’at para rasul berbeda antara satu dengan yang lainnya, atau dengan kata lain bahwa para rasul diutus dengan membawa syari’at baru.
4. Rasul pertama adalah Nuh, sedangkan nabi yang pertama adalah Adam.
5. Seluruh rasul yang diutus, Allah selamatkan dari percobaan pembunuhan yang dilancarkan oleh kaumnya. Adapun nabi, ada di antara mereka yang berhasil dibunuh oleh kaumnya.

Kriteria Nabi dan Rasul

Dikatakan bahwa nabi dan rasul memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi, di antaranya adalah:
1. Dipilih dan diangkat oleh Allah.
2. Mendapat mandat (wahyu) dari Allah.
3. Bersifat cerdas.
4. Dari umat Bani Adam (Manusia).
5. Nabi dan Rasul adalah seorang laki-laki (bukan wanita).

Nabi dan rasul dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menyebut beberapa orang sebagai nabi. Nabi pertama adalah Adam as. Nabi sekaligus rasul terakhir ialah Muhammad saw yang ditugaskan untuk menyampaikan Islam dan peraturan yang khusus kepada manusia di zamannya sehingga hari kiamat. Isa as yang lahir dari perawan Maryam binti Imran juga merupakan seorang nabi.

Selain ke-25 nabi sekaligus rasul, ada juga nabi lainnya seperti dalam kisah Khidir bersama Musa yang tertulis dalam Surah Al-Kahf ayat 66-82. Terdapat juga kisah Uzayr dan Syamuil. Juga nabi-nabi yang tertulis di Hadits dan Al-Qur’an, seperti Yusya’ bin Nun, Zulqarnain, Iys, dan Syits.

Sedangkan orang suci yang masih menjadi perdebatan sebagai seorang Nabi atau hanya wali adalah Luqman al-Hakim dalam Surah Luqman.

Rasul dalam Al-Qur’an dan Hadits

Dari Al-Quran dan hadits disebutkan beberapa nama nabi sekaligus rasul, di antaranya yaitu:
o Idris diutus untuk Bani Qabil di Babul, Iraq dan Memphis.
o Nuh diutus untuk Bani Rasib di wilayah Selatan Iraq.
o Hud diutus untuk ʿĀd yang tinggal di Al-Ahqaf, Yaman.
o Shaleh diutus untuk kaum Tsamūd di Semenanjung Arab.
o Ibrahim diutus untuk Bangsa Kaldeā di Kaldaniyyun Ur, Iraq.
o Luth diutus untuk negeri Sadūm dan Amūrah di Syam, Palestina.
o Isma’il diutus untuk untuk Qabilah Yaman, Mekkah.
o Ishaq diutus untuk Kanʻān di wilayah Al-Khalil, Palestina.
o Yaqub diutus untuk Kanʻān di Syam.
o Yusuf diutus untuk Hyksos dan Kanʻān di Mesir.
o Ayyub diutus untuk Bani Israel dan Bangsa Amoria (Aramin) di Horan, Syria.
o Syu’aib diutus untuk Kaum Rass, negeri Madyan dan Aykah.
o Musa dan Harun diutus untuk Bangsa Mesir Kuno dan Bani Israel di Mesir.
o Zulkifli diutus untuk Bangsa Amoria di Damaskus.
o Yunus diutus untuk bangsa Assyria di Ninawa, Iraq.
o Ilyas diutus untuk Funisia dan Bani Israel, di Ba’labak Syam.
o Ilyasa diutus untuk Bani Israel dan kaum Amoria di Panyas, Syam.
o Daud diutus untuk Bani Israel di Palestina.
o Sulaiman diutus untuk Bani Israel di Palestina.
o Zakaria diutus untuk Bani Israil di Palestina.
o Yahya diutus untuk Bani Israil di Palestina.
o Isa diutus untuk Bani Israil di Palestina.
o Muhammad seorang nabi & rasul terakhir yang diutus di Jazirah Arab untuk seluruh umat manusia dan jin.

Sedangkan Adam dan Syits yang diutus sebelumnya hanyalah bertaraf sebagai seorang nabi saja, bukan sebagai rasul karena mereka tidak memiliki umat atau kaum dan tidak memiliki kewajiban untuk menyebarkan risalah yang mereka yakini. Sedangkan Khaḍr seorang nabi yang dianggap misterius, ia tidak diketahui lebih lanjut untuk kaum apa dia diutus.

Riwayat Ringkas 25 Nabi dan Rasul

Dibawah ini akan dibahas riwayat ringkas 25 Nabi dan Rasul dalam Al-Qur’an dan Hadits yang wajib di Imani oleh setiap Muslim, yaitu:
1. Adam AS
2. Idris AS
3. Nuh AS
4. Hud AS
5. Saleh (Shalih/Shaleh/Sholeh) AS
6. Ibrahim AS
7. Luth AS
8. Ismail AS
9. Ishak (Ishaq) AS
10. Yaqub (Yakub/Israil/Israel) AS
11. Yusuf AS
12. Syu’aib (Syuaib) AS
13. Ayyub (Ayub) AS
14. Dzulkifli (Zulkifli) AS
15. Musa AS
16. Harun AS
17. Daud (Dawud) AS
18. Sulaiman (Sulaeman) AS
19. Ilyas AS
20. Ilyasa’ AS
21. Yunus (Dzun Nun) AS
22. Zakaria (Zakariya) AS
23. Yahya AS
24. Isa AS
25. Muhammad SAW

1. ADAM as

Nama : Adam As.
Usia : 930 tahun
Periode sejarah :5872 – 4942 SM
Tempat turunnya di bumi : India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab
Jumlah keturunannya (anak) : 40 (laki-laki dan perempuan)
Tempat wafat : India, ada yang berpendapat di Mekah
didalam Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 25 kali

2. IDRIS as

Nama : Idris bin Yarid, nama aslinya Akhnukh, nama Ibunya Asyut
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as
Usia : 345 tahun
Periode sejarah :4533 – 4188 SM
Tempat diutus (lokasi) : Irak Kuno (Babylon, Babilonia) dan Mesir (Memphis)
Tempat wafat : Allah mengangkatnya ke langit
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 2 kali

3. NUH as

Nama : Nuh bin Lamak
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as
Usia : 950 tahun
Periode sejarah : 3993 – 3043 SM
Tempat diutus (lokasi) : Selatan Irak
Jumlah keturunannya (anak) : 4 putra (Sam, Ham, Yafits dan Kan’an)
Tempat wafat : Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya : Kaum Nuh
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 43 kali

4. HUD (Huud) as

Nama : Hud bin Abdullah
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ ‘Aush (‘Uks) ⇒ ‘Ad ⇒ al-Khulud ⇒ Rabah ⇒ Abdullah ⇒ Hud as
Usia : 130 tahun
Periode sejarah : 2450 – 2320 SM
Tempat diutus (lokasi) : Al-Ahqaf (lokasinya antara Yaman dan Oman)
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Bagian Timur Hadramaut (Yaman)
Sebutan kaumnya : Kaum ‘Ad
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 7 kali

5. SALEH (Shalih/Shaleh/Sholeh) as

Nama : Shalih bin Ubaid
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ Amir ⇒ Tsamud ⇒ Hadzir ⇒ Ubaid ⇒ Masah ⇒ Asif ⇒ Ubaid ⇒ Shalih as
Usia : 70 tahun
Periode sejarah : 2150 – 2080 SM
Tempat diutus (lokasi) : Daerah al-Hijr (Mada’in Salih, antara Madinah dan Syria)
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya : Kaum Tsamud
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 10 kali

6. IBRAHIM as

Nama : Ibrahim bin Azar
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as
Usia : 175 tahun
Periode sejarah :1997 – 1822 SM
Tempat diutus (lokasi) : Ur di daerah selatan Babylon (Irak)
Jumlah keturunannya (anak) :13 anak (termasuk Nabi Ismail as & Nabi Ishaq as)
Tempat wafat : Al-Khalil (Hebron, Palestina/Israel)
Sebutan kaumnya : Bangsa Kaldan
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 69 kali

7. LUTH as

Nama : Luth bin Haran
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Haran ⇒ Luth as
Usia : 80 tahun
Periode sejarah :1950 – 1870 SM
Tempat diutus (lokasi) : Sodom dan Amurah (Laut Mati atau Danau Luth)
Jumlah keturunannya (anak) : 2 putri (Ratsiya dan Za’rita)
Tempat wafat : Desa Shafrah di Syam (Syria)
Sebutan kaumnya : Kaum Luth
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 27 kali

8. ISMAIL as

Nama : Ismail bin Ibrahim
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as
Usia : 137 tahun
Periode sejarah : 1911 – 1774 SM
Tempat diutus (lokasi) : Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) : 12 anak
Tempat wafat : Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya : Amaliq dan Kabilah Yaman
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 12 kali

9. ISHAQ (Ishak) as

Nama : Ishaq (Ishak) bin Ibrahim
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as
Usia : 180 tahun
Periode sejarah : 1897 – 1717 SM
Tempat diutus (lokasi) : Kota al-Khalil (Hebron) di daerah Kan’an (Kana’an)
Jumlah keturunannya (anak): 2 anak (termasuk Nabi Ya’qub as/Israil)
Tempat wafat : Al-Khalil (Hebron)
Sebutan kaumnya : Bangsa Kan’an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 17 kali

10. YA’QUB (Yakub/Israel/Israil) as

Nama : Ya’qub (Yakub/Israel) bin Ishaq (Ishak),
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as
Usia : 147 tahun
Periode sejarah :1837 – 1690 SM
Tempat diutus (lokasi) : Syam (Syria/Siria)
Jumlah keturunannya (anak) : 12 anak laki-laki (Rubin, Simeon, Lewi, Yahuda, Dan, Naftali, Gad, Asyir, Isakhar, Zebulaon, Yusuf, dan Benyamin) dan 2 anak perempuan (Dina dan Yathirah)
Tempat wafat : Al-Khalil (Hebron), Palestina
Sebutan kaumnya : Bangsa Kan’an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 18 kali

11. YUSUF as

Nama : Yusuf bin Ya’qub (Yusuf bin Yakub)
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Yusuf as
Usia : 110 tahun
Periode sejarah : 1745 – 1635 SM
Tempat diutus (lokasi) : Mesir
Jumlah keturunannya (anak) : 3 anak (2 laki-laki, 1 perempuan)
Tempat wafat : Nablus
Sebutan kaumnya : Heksos dan Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 58 kali

12. SYU’AIB (Syuaib) as

Nama : Syu’aib (Syuaib) bin Mikail
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Madyan ⇒ Yasyjur ⇒ Mikail ⇒ Syu’aib as
Usia : 110 tahun
Periode sejarah :1600 – 1490 SM
Tempat diutus (lokasi) : Madyan (di pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai)
Jumlah keturunannya (anak) : 2 anak perempuan
Tempat wafat :Yordania
Sebutan kaumnya : Madyan dan Ashhabul Aikah
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 11 kali

13. AYUB (Ayyub) as

Nama : Ayub (Ayyub) bin Amush
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub as
Usia : 120 tahun
Periode sejarah :1540 – 1420 SM
Tempat diutus (lokasi) : Dataran Hauran
Jumlah keturunannya (anak) : 26 anak
Tempat wafat : Dataran Hauran
Sebutan kaumnya : Bangsa Arami dan Amori, di daerah Syria dan Yordania
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 4 kali

14. DZULKIFLI (Zulkifli) as

Nama : Dzulkifli (Zulkifli) bin Ayub, nama aslinya Bisyr (Basyar)
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub as ⇒ Dzulkifli as
Usia : 75 tahun
Periode sejarah : 1500 – 1425 SM
Tempat diutus (lokasi) : Damaskus dan sekitarnya
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Damaskus
Sebutan kaumnya : Bangsa Arami dan Amori (Kaum Rom), di daerah Syria dan Yordania
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 2 kali

15. MUSA as

Nama : Musa bin Imran
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Musa as
Ibunya bernama: Yukabad (riwayat lain menyebutkan: Yuhanaz Bilzal)
Usia : 120 tahun
Periode sejarah : 1527 – 1407 SM
Tempat diutus (lokasi) : Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak) : 2 anak ( Azir dan Jarsyun), dari istrinya yang bernama Shafura (binti Nabi Syu’aib as)
Tempat wafat : Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang)
Sebutan kaumnya : Bani Israil dan Fir’aun (gelar raja Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 136 kali

16. HARUN as

Nama : Harun bin Imran, istrinya bernama Ayariha
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun as
Usia : 123 tahun
Periode sejarah : 1531 – 1408 SM
Tempat diutus (lokasi) : Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang)
Sebutan kaumnya : Bani Israil dan Fir’aun (gelar raja Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 20 kali

17. DAUD (Dawud) as

Nama : Daud (Dawud, David) bin Isya
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as
Usia : 100 tahun
Periode sejarah : 1063 – 963 SM
Tempat diutus (lokasi) : Palestina (dan Israil)
Keturunannya (anaknya) : Sulaiman (Sulaeman)
Tempat wafat : Baitul Maqdis (Yerusalem)
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 18 kali

18. SULAIMAN (Sulaeman) as

Nama : Sulaiman (Sulaeman, Sulayman) bin Daud (Dawud)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as
Usia : 66 tahun
Periode sejarah : 989 – 923 SM
Tempat diutus (lokasi) : Palestina (dan Israil)
Keturunannya (anaknya) : Rahab’an (Ruhba’am/Rehabeam)
Tempat wafat : Baitul Maqdis (Yerusalem)
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 21 kali

19. ILYAS as

Nama : Ilyas bin Yasin
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun as ⇒ Alzar ⇒ Fanhash ⇒ Yasin ⇒ Ilyas as
Usia : 60 tahun
Periode sejarah : 910 – 850 SM
Tempat diutus (lokasi) : Ba’labak (daerah di Lebanon)
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Diangkat Allah ke langit
Sebutan kaumnya : Bangsa Fenisia
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 4 kali

20. ILYASA’ as

Nama : Ilyasa’ bin Akhthub
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Yusuf as ⇒ Ifrayim ⇒ Syutlim ⇒ Akhthub ⇒ Ilyasa’ as
Usia : 90 tahun
Periode sejarah : 885 – 795 SM
Tempat diutus (lokasi) : Jaubar, Damaskus
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Palestina
Sebutan kaumnya : Bangsa Arami dan Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 2 kali

21. YUNUS (Yunan/ Dzan nun) as

Nama : Yunus (Yunan) bin Matta binti Abumatta, Matta adalah nama Ibunya (catatan : Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya, kecuali Yunus dan Isa)
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Yusuf as ⇒ Bunyamin ⇒ Abumatta ⇒ Matta ⇒ Yunus as
Usia : 70 tahun
Periode sejarah : 820 – 750 SM
Tempat diutus (lokasi) : Ninawa, Irak
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Ninawa, Irak
Sebutan kaumnya : Bangsa Asyiria, di utara Irak
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 5 kali

22. ZAKARIA (Zakariya) as

Nama : Zakaria (Zakariya) bin Dan
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakaria as
Usia :122 tahun
Periode sejarah : 91 SM – 31 M
Tempat diutus (lokasi) : Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) : 1 anak
Tempat wafat :Halab (Aleppo)
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 12 kali

23. YAHYA as

Nama : Yahya bin Zakaria
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakaria as ⇒ Yahya as
Usia : 32 tahun
Periode sejarah : 1 SM – 31 M
Tempat diutus (lokasi) : Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) : –
Tempat wafat : Damaskus
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 5 kali

24. ISA as

Nama : Isa bin Maryam binti Imran, Maryam adalah nama Ibunya (catatan : Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya, kecuali Isa dan Yunus)
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab’am ⇒ Radim ⇒ Yahusafat ⇒ Barid ⇒ Nausa ⇒ Nawas ⇒ Amsaya ⇒ Izazaya ⇒ Au’am ⇒ Ahrif ⇒ Hizkil ⇒ Misyam ⇒ Amur ⇒ Sahim ⇒ Imran ⇒ Maryam ⇒ Isa as
Usia : 33 tahun
Periode sejarah : 1 SM – 32 M
Tempat diutus (lokasi) : Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) : –
Tempat wafat : Diangkat oleh Allah ke langit
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : di dalam Al-Qur’an nama Isa disebutkan sebanyak 21 kali, sebutan al-Masih sebanyak 11 kali, dan sebutan Ibnu (Putra) Maryam sebanyak 23 kali

25. MUHAMMAD saw

Nama : Muhammad bin Abdullah
Garis Keturunan Ayah : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Hasyim ⇒ Abdul Muthalib ⇒ Abdullah ⇒ Muhammad saw
Garis Keturunan Ibu : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Wahab ⇒ Aminah ⇒ Muhammad saw
Usia : 62 tahun
Periode sejarah : 570 – 632 M
Tempat diutus (lokasi) : Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) : 7 anak (3 laki-laki (Qasim, Abdullah & Ibrahim) dan 4 perempuan (Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum & Fatimah az Zahrah)
Tempat wafat : Madinah an-Nabawiyah
Sebutan kaumnya : Bangsa Arab
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 25 kali secara jelas


Catatan:

^ Dari Abi Zar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312)” Hadits riwayat At-Turmuzy.

^ “Aku diutus kepada seluruh makhluk.” Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: Mereka tdk berbeda pendapat bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada jin dan manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Hadits riwayat Muslim). Ini termasuk keistimewaan beliau dibandingkan para nabi yakni dgn diutus beliau kepada seluruh jin dan manusia.

^ Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Aku diutus kepada yg merah dan yg hitam.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim). Mujahid bin Jabr menafsirkan hadits ini dgn makna jin dan manusia.

^ Al-Hafizh Ibnu Katsir menyatakan dalam Tafsirnya (3/47), “Tidak ada perbedaan (di kalangan ulama) bahwasanya para rasul lebih utama daripada seluruh nabi dan bahwa ulul ‘azmi merupakan yang paling utama di antara mereka (para rasul)”.

^ “Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya”. (QS. Al-Mu`minun : 44)

^ “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang”. (QS. Al-Ma`idah : 48)

^ “Maka orang-orang mendatangi Adam dan berkata: Wahai Adam, tidakkah engkau tahu (bagaimana keadaan manusia). Allah telah menciptakanmu dengan TanganNya, dan Allah (memerintahkan) Malaikat bersujud kepadamu dan Allah mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu. Berilah syafaat kami kepada Rabb kami sehingga kami bisa mendapatkan keleluasaan dari tempat kami ini. Adam berkata: aku tidak berhak demikian, kemudian Adam menceritakan kesalahan yang menimpanya. (Adam berkata): akan tetapi datanglah kepada Nuh, karena ia adalah Rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi. Maka orang-orang kemudian mendatangi Nuh….”(H.R alBukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

^ Allah berfirman: “Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang yang beriman?”. (QS. Al-Baqarah : 91)

^ “Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al anbiyya’ 21:7)

^ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (An Nisaa’ 4:34)

Referensi

* Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
* Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur’an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
* Ibnu Katsir, Qishashul Anbiyaa’, hlm 24.
* Ibnu Asakir, Mukhtashar Taarikh Damasyaqa, IV/224.
* ats-Tsa’labi, Qishashul Anbiyaa’ (al-Araa’is), hlm 36.
* Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
* Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
* alquran.bahagia.us, keislaman.com, dunia-islam.com, Al-Quran web, id.wikipedia.org, PT. Gilland Ganesha, 2008.
* Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
* Al-Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al-‘Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
* M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
* Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
* Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.

%d bloggers like this: