Mushaf Utsmani Iraq

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. ”
(al-Hijr [15]:9).

Sebagai pelita kehidupan, kedudukan al-Qur`an sangatlah penting bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, tak heran jika setiap Muslim berusaha memelihara, mengamalkan, serta menjaga orisinalitas kandungannya.

Di Indonesia, kecintaan itu terwujud antara lain dengan munculnya berbagai naskah dan mushaf al-Qur`an yang bercita rasa tinggi. Mulai dari khath (tulisan) hingga aneka corak iluminasi. Semua itu tak lain lahir dari pengaruh keragaman alam, etnis, dan kekayaan kultural bangsa Indonesia.

Ragam berbagai mushaf Nusantara itu bisa kita temukan di dalam Museum Bayt al-Qur`an, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Bangunan museum ini diresmikan oleh Soeharto pada tanggal 20 Oktober 1997.

Berikut ini beberapa mushaf Nusantara yang masih dapat ditemukan di dalam Museum Bayt al-Qur`an:


Mushaf terbesar

1. Mushaf al-Banjari

Asal : Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Tahun pembuatan : 1994 M
Ukuran : 100 x 120 cm
Bahan : Kertas Eropa
Teknik : Tulis tangan, khath Naskhi sistem sudut
Keterangan : Hadiah dan kenang-kenangan dari masyarakat Kalimantan Selatan, pada penyelenggaraan MTQ Nasional Tahun 1994 di Banjarmasin.

2. Mushaf Gresik

Tempat ditulis : Gresik, Jawa Timur
Bahasa/aksara : Arab/Nasakh
Ukuran : 29,5 x 19,5 cm
Jumlah baris : 15 baris
Jumlah halaman : 296 halaman
Koleksi : Bait al-Qur`an dan Museum Istiqlal
Keterangan : Isi mushaf dimulai dari ayat 49 surah al-Baqarah
sampai ayat 13 surah as-Sajadah. Dilengkapi dengan tafsir yang ditulis dengan bahasa dan aksara Arab. Penulisan mushaf dimulai dari belakang hingga bertemu di tengah.

3. Mushaf Sunan Ampel

Bahasa : Arab
Jenis kertas : Kertas Eropa
Isi naskah : Dimulai dari surah al-Fatihah sampai surah an-Nas lengkap 30 juz. Diakhiri dengan doa khatam al-Qur`an di halaman terakhir (11 baris)

4. Mushaf Wonosobo


Mushaf Wonosobo

Mushaf al-Qur`an ini ditulis oleh Abdul Malik dan Hayatuddin, dua orang santri dari Pondok Pesantren al-Asy`ariyah, Kalibeber Wonosobo, pimpinan Kiai Haji Muntaha.

Mushaf ini ditulis selama kurang lebih 14 bulan. Tepatnya dimulai tanggal 16 Oktober 1991 dan selesai tanggal 7 Desember 1992. Huruf Sin pada surah an-Nas ditulis oleh Menteri Penerangan H. Harmoko sebagai tanda selesainya penulisan.

5. Mushaf Sundawi


Mushaf Sundawi

Penulisan kaligrafi dan iluminasi dibuat tahun 1995-1997. Gaya penulisan kombinasi Naskhi, Kufi, dan Tsulusi. Al-Qur`an Mushaf Sundawi terdiri dari 762 halaman dengan 15 garis di setiap halaman.

Ragam hias yang digunakan adalah tumbuhan khas Jawa Barat, batik, ukiran, garabah, dan lain-lain.

Dicetak pada tahun 1997 dengan ukuran 20 x 26,6 cm. Lembaran asli berukuran tinggi 77,4 cm dan lebar 45,6 cm. Ruang kaligrafi berukuran 54,55 cm x 36,2 cm. Iluminasi terangkum dalam 17 desain biasa dan 3 desain khusus, Ummu, Nishf, dan Khatmu al-Qur`an.

6. Mushaf Istiqlal


Mushaf Istiqlal

Surah al-Fil : 1-5
Surah al-Quraisy : 1-4
Surah al-Ma`un : 1-7 halaman 933-934
Iluminasi ragam hias Sumatera Barat, 1991-1994
Perancang dan desain : Mahmud Buchari, A.D Pirous, dan Ahmad Noe`man

7. Mushaf Pusaka Indonesia


Mushaf sultan ternate

Penulis : Prof. H. M. Salim Fachry (Guru Besar IAIN Jakarta)
Tempat penulisan : Gedung Departemen Agama
Masa Penulisan : 23 Juni 1948- 15 Maret 1950
Aksara : Nasakh al-Qur`an sudut
Ukuran halaman : 75 x 100 cm
Ukuran boks teks : 50 x 80 cm
Jenis kertas : Karton manila putih
Keterangan : Mushaf ini dibuat atas prakarsa Bung Karno dengan kurator KH. Abdurrazzaq Muhilli, di bawah pengawasan Lajnah Pentashih Departemen Agama RI dengan rujukan Tafsir Saudi Arabia/Hasbi as-Shiddiqi

8. Mushaf Ibnu Soetowo

Penulis : Muhammad Sadli Saad
Tempat penulisan : Jakarta
Jenis kertas : Eropa
Keterangan : Ditulis dengan model Qur`an sudut, khath Naskhi

9. Mushaf Standar Berhuruf Braille


Mushaf Braille kuno

Al-Qur`an standar Braille adalah al-Qur`an yang ditulis dengan huruf-huruf Arab Braille, yang terbentuk dari titik-titik yang menonjol, seperti halnya huruf-huruf latin Braille.

Pada mulanya penulisan al-Qur`an Braille ini dipelopori yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Jogjakarta tahun 1964. Yayasan tersebut dalam membuat huruf Arab Braille berdasarkan pada sistem Khath dan Imla`.

Pada tahun 1974, Badan Pembina “Wyata Guna” Bandung menerbitkan pula al-Qur`an Braille berdasar kepada sistem Khath Utsmani. Hingga saat itu di Indonesia terdapat dua al-Qur`an Braille yang ditulis dengan standar yang berbeda.

Alhasil, Departemen Agama dalam hal ini Puslitbang Lektur Agama Badan Litbang Agama mengadakan musyawarah untuk menyatukan kedua kubu yang berbeda ini. Akhirnya, tahun 1977 disepakati lahirnya sebuah al-Qur`an Braille untuk seluruh Indonesia yang lalu ditetapkan sebagai al-Qur`an Standar Braille Indonesia berdasar SK Menteri Agama No. 25 Tahun 1984.

*Masykur/Suara Hidayatullah MEI 2008

sumber: http://majalah.hidayatullah.com

Advertisements