Posts from the ‘ALAM ISLAMI’ Category

Ghazwul Fikr : Aksi 212 dan 5 Fenomena Lahirnya Generasi Baru Islam Indonesia

Kamis, 8 Desember 2016 – 07:04 WIB

“Setelah sekian lama umat dizalimi, ulamanya dibully, informasinya dikaburkan media massa, atas kekuasaan Allah, kelompok kecil bisa tampil dan dipercaya menghimpun jutaan orang dengan sangat terpuji.”

Cuaca di kawasan Monas pada Aksi Bela Islam III, Jumat (02/12/2016) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

BANGSA Indonesia khususnya umat Islam mencatat sejarah baru pada Jum’at 2 Desember 2016. Untuk pertama kalinya, umat Islam melaksanakan shalat Jum’at terbesar yang dilaksanakan  di Tugu Monumen Nasional (Monas) dengan shaf yang tertib.

Hari itu, umat Islam dari segala penjuru daerah berbondong-bondong datang ke jantung Ibu Kota untuk satu tujuan; membela al-Qur’an. Menurut rilis resmi  Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), forum yang menyelenggarakan acara ini, jumlah umat yang hadir di Monas berkisar 6 – 7 juta orang.

Dengan jumlah massa sebesar itu, logikanya sangat sulit mengatur barisan, ketertiban, kendaraan, kebutuhan makanan, kebutuhan buang air dan lain-lain.

Allah Satukan Hati Kami di Monas [1]

Tetapi, Aksi 212 memang ajaib. Jutaan jamaah patuh pada komando Habib Rizieq Shihab (HRS) dan KH Bachtiar Nasir atau akrab disapa Ustad Bachtiar Nasir (UBN). Tentu jutaan orang itu bukan jamaah pengajian Habib Rizieq dan Kiai Bachtiar.

Banyak sekali diantara mereka bahkan belum pernah berjumpa dengan keduanya. Namun, dalam aksi ini semua patuh dan tunduk. Bahkan menurut Kapolri Jendral Tito Karnavian, jam 4.30 sore lalu lintas Jakarta beranjak normal. Padahal jamaah bubar dari Monas jam 2 siang.

Tujuh juta manusia bubar secara tertib, bersih tidak menyisakan sampah hanya dalam waktu 2,5 jam. Itu termasuk ribuan kendaraan mereka. Sebaliknya, jutaan orang menyemai kebaikan, saling menebar senyum, membantu sesama, saling berlomba-lomba beramal shalih dan memberikan bagian terbaik pada Islam.

Sebuah fenomena yang menakjubkan. Tetapi yang lebih membahagiakan lagi, jamaah Aksi 212 sangat patuh pada ulama yang memimpin. Energi 212 melahirkan kepemimpinan baru ulama-muda yang lebih disegani umat dibanding ulama-ulama organisasi massa Islam mainstream.

Allah Satukan Hati Kami di Monas [2]

Siapa sangka, Habib Rizieq yang banyak mendapat stigma negatif media massa dan Barat, kini justru lebih diterima (mungkin lebih dicintai) jutaan umat Islam ini?

Banyak yang kagum, ternyata Habib Rizieq sosok leader yang tangguh, orator yang baik dan sosok yang cerdik. Tokoh yang selalu disematkan kekerasan sebaliknya menunjukkan aksi kedamaian dan simpatik. Jika media mau jujur, Habib Rizieq adalah Man of The Year. Tapi tidak perlu berharap, sebab fenomena ini tidak akan mampu dibaca pada orang-orang yang landasaannya hanya berdasarkan kalkulasi politik dan HAM ala Barat.

Menariknya lagi,  follower dua tokoh tadi (HRS dan UBN) saat ini melintasi ormas-ormas Islam yang ada. Dengan kata lain, mereka semua adalah anggota ormas-ormas Islam yang dianggap mapan.

Apa sesungguhnya yang terjadi? Setidaknya ada lima (5) alasan mengapa fenomena menarik dari Aksi 212 ini terjadi.

aksi-damai-212_3

Pertama, Aksi 411 dan 212 menunjukkan kualitas ukhuwah umat Islam

Inilah sebuah persaudaraan yang bukan abu-abu, atau berpura-pura. Tetapi persaudaraan yang murni. Bagaimana kita banyak saksikan jutaan orang saling berebut beramal sholih di Monas. Inilah rahmat lil alamin yang sesungguhnya. Bahkan non-Muslim pun yang turut simpati ikut hadir merasakan aura itu. Sekelompok non-Muslim yang datang ke Monas mengaku nyaman dan aman.

Inilah Islam. Jika Islam ditegakkan, jangankan manusia, hewan dan tanaman-pun akan mendapatkan rahmatnya. Lihatlah, bagaimana jamaah 212 di mana-mana saling mengingatkan, “Jangan injak rumput, jangan injak taman, jaga kebersihan!” Aroma rahmatan lil alamin sangat terasa di sini. Bukan rahmatan lil alamin yang sering jadi slogan tokoh ormas yang dipromosikan media mainstream untuk menyerang umat Islam lainnya yang tidak berpihak pada ideologinya.

Allah Satukan Hati Kami di Monas [3]

Sebab orang liberal juga sering teriak rahmatan lil alamin namun justru aksinya menyakiti umat Islam lainnya.

Saya yakin, mereka yang hadir di Monas telah dipilih oleh Allah untuk menjadi bagian mujahid al-Qur’an. Jamaah 212 semua mendapat percikan rahmat Allah. Sehingga mereka rela meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan istri dan anaknya, menghabiskan uang tabungan dan gajinya, berpayah-payah dengan satu tujuan: “Membela agama Allah!”

Fenomena ini sekaligus menjadi bukti bahwa gelar ulama, ketua ormas Islam, dai, profesor bahkan intelektual belum tentu menarik perhatian Allah Subhanahu Wata’a. Orang bijak mengatakan, wisdom (kearifan) itu tidak datang dari tingginya jabatan atau gelar. Faktanya, tukang kue dan roti bisa lebih wise daripada “Professor Nganu”. Ukuran simple, siapa saja yang mendapat rahmat-Nya pasti menjadi wise.

Inilah kulaitas yang sebenarnya umat Islam Indonesia. Kualitas hati yang merupakan cerminan iman.

Pada faktanya, banyak orang cerdik pandai, dipanggil Ustadz, Kiai, Buya, Ajengan, Gus dll. Bahkan orang berjuluk ulama yang duduk di ormas-ormas Islam  besar yang berpengaruh juga tak mampu membaca hati dan pikiran umat Islam. Mereka gagal melihat masalah yang dihadapi umat.  Meminjam istilah UBN, mereka telah ‘gagal paham’ membaca peta gerakan baru Islam di Indonesia.

Sebaliknya, mereka justru berada di barisan pertama pembela kebatilan dan menggembosi umat Islam yang ingin memuliakan agamanya. Termasuk “Profesor Nganu” yang hanya berteriak-teriak di jejaring sosial menggembosi umat Islam lainnya.

Saya adalah warga Nahdhatul Ulama (NU) yang mengaku sangat salut terhadap saudara-saudara Muslim yang berlatar belakang orang biasa, tetapi kepeduliannya pada agama luar biasa. Mereka menggerakkan badan tanpa ada kepentingan apa-apa. Murni dari hati nurani yang terpanggil.

Mereka tidak banyak bicara, karena tidak memiliki ‘panggung’. Bukan orang berpengaruh, karena memang tidak punya pengaruh. Mereka hanya hamba Allah yang biasa. Ibadah untuk Allah. Berjuang juga untuk Allah dan untuk menyenangkan hati Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Bukan untuk menyenangkan penguasa atau pimpinan.

Bukankah wali-wali Allah itu banyak yang mastur. Dianggap orang banyak biasa-biasa saja, tetapi hakikatnya luar biasa di sisi Allah?

aksi-damai-212_5

Kedua, Aksi 411 dan 212 menunjukkan bukti, sifat Islam itu bergerak

Fenomena Aksi 212 ini bisa dilihat dari dampak getaran Surat al-Maidah. Sebab umat Islam itu ibarat sumber api yang tertutup semak dan jerami. Dari luar nampak apinya sudah padam, tetapi sesungguhnya ia masih tetap menyala. Api itu akan siap menyambar apa saja, selama ada pemicunya. Selama sumber itu masih ada, sewaktu-waktu akan  membakar sekitarnya.

Saya mencoba membuat ilustrasi. Andai di semua lini, umat Islam tak diberi peran,  semua informasi disumbat,  seluruh jaringan stasiun TV ini tidak memberi ruang pada Islam. Semua menteri, gubernur, bupati sampai camatnya bukan Muslim. Hatta, jika Islam di negeri ini hanya tinggal nama di KTP saja. Jangan lupa, dari 270 juta penduduk Islam ini mayoritasnya Muslim. Keislaman mereka suatu hari tetap akan “menyala” pada saat dan tempat yang tepat.

Lihatlah Bosnia, lihatlah masyarakat Muslim di Timur Tengah. Ketika gerakan dan aspirasinya ditekan-tekan, suatu hari pada waktunya, mereka akan bangkit.

Sama halnya di Indonesia. Kurang bagus bagaimana kerja-kerja media massa, LSM, pasukan-pasukan cyber bayaran. Mereka mereka mengelola dan merebut informasi. Ketika ada momen Islam dan Al-Qurn dinista, orang yang awalnya diam lalu berbalik. Dari tukang ojeg, tukang roti, sampai orang-orang bertato semua datang ke Monas agar penista agama dipenjara.

aksi-jumat-kobro

Ketiga, Aksi 411 dan 212 menunjukkan fakta, umat Islam lebih percaya ulama yang tulus

Dua kali Aksi Bela Islam (II dan III) semakin menunjukkan banyak umat lebih menyandarkan pilihannya pada ulama, habaib dan para dai yang tulus, yang tidak pernah memiliki konsesi politik. Tidak memilih pada ulama dan tokoh yang mudah melakukan bargaining (tawar-menawar) dengan kekuasaan dan uang.

Harap diingat, tokoh yang cenderungan menjual Islam dan kelompoknya untuk kepentingan sesaat (politik dan kekusaaan) saat ini semakin dijauhi umatnya sendiri. Akibatnya, mereka memilih tokoh-tokoh lain yang lebih tulus. Khususnya lebih berani menyuarakan kebenaran (al-Haq) dan menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

aksi-damai-212_4

Empat, Jamaah Medsos sebagai sumber informasi

Fenomena Aksi 411 dan 212, juga menemukan fakta, umat Islam yang lelah didzalimi media massa (baik Koran dan Televisi) akhirnya lebih memilih sumber informasi lansung melalui jejaring sosial. Facebook, Twitter dan WhatsApp menjadi rujukan utama dan tercepat mencari dan menemukan informasi.

Fenomena ini harus menjadi pelajaran pengelola Negara dan pengelola media massa (khususnya Televisi). Dalam dua kali aksi (Aksi Damai Bela Islam II & III) beberapa stasiun TV ditolak massa umat Islam. Seharusnya cara berfikir kita mudah. Mengapa ditolak? Pasti ada sesuatu. Organisasi-organisasi pers, harus lebih jujur melihat kekurangan diri sendiri, bukan teriak-teriak mencari pembelaan atau alibi.

Banyak informasi dibelokkan, dicurangi. Alhamdulillah, umat Islam masih kreatif. Mereka menemukan tempat ngaji dan informasi di grup-grup WhatsApp, Facebook. Jamaah facbookiyyah inilah juga juga masuk ‘generasi baru Islam’ Indonesia. Mereka menggerakkan wacana, opini dan ‘perang informasi’ karena suara hati mereka tidak diwakili media mainstream dan televisi di Indonesia yang mayoritas hanya dikuasai pemilik modal.

Mari berkaca pada Aksi Jalan Ciamis-Jakarta. Darimana mereka berinisiatif ini? Jika aparat tidak melakukan intimidasi, tekanan dan media selalu jujur menyampaikan fakta, pasti tidak aka nada gerakan ini. Aparat dan pengelola media harus menyadari ini.

aksi-damai-212_6

Lima, fenomena lahirnya generasi baru Islam di Indonesia

Aksi 411 dan 212 menunjukkan fenomena baru yang tidak pernah dibayangkan oleh teori akademis apapun di Indonesia (mungkin juga) di dunia.

Lahirnya gerakan baru intelektual Muslim yang rela melepaskan sekat-sekat organisasi. Mereka rela meninggalkan isu-isu furu’ (cabang) karena cintanya pada al-Quran dan Islam. Mereka tidak malu dan tidak takut celaan orang yang mencela.

Fenomena ini menjungkir-balikkan teori lama yang selama ini dianggap seolah benar bahwa suara umat Islam diwakili oleh beberapa tokoh atau ormas saja. Di luar ormas, sangat banyak sekali umat yang tidak terikat apapun.

Aksi 411 dan 212, melahirkan gerakan baru Islam Indonesia akibat getaran Surat Al-Maidah. Setelah sekian lama umat dizalimi, ulama-nya dibully, agamanya dicela-cela, informasinya dikaburkan media massa, tetapi atas kekuasaan Allah, kelompok yang kecil – yang sangat tidak popular bahkan telah lama disematkan cap-cap negatif–  justru yang ditunjukkan oleh Allah mampu menghimpun jutaan orang dengan cara sangat terpuji.

Siapa sangka Habib Rizieq yang paling banyak dibully media mainstrem, kini disaksikan oleh rakyat Indonesia sendiri mampu memimpin jutaan umat dalam satu komando. KH. Bahtiar Nasir, hanya dikenal sebagai pendakwah di TV. Tapi, kini, dai muda tersebut jadi tokoh di barisan depan mewakili umat Islam Indonesia.

Hanya sedikit diantara kita yang berani dicela ketika beramar ma’ruf nahi munkar. Yang banyak, kita lebih suka dipuji-puji dengan sebutan ‘moderat’. Fenomena ini pasti akaan terjadi sepanjaang zaman, bahkan juga disitir Al-Quran  dalam Surat Al-Maidah. Akan datang generasi yang ‘tidak takut pada orang yang mencela’.

“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” [QS: Surat Al-Maidah: 54].

Suka atau tidak, inilah faktanya. Selamat datang generasi baru Islam Indonesia!

Penulis anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

http://www.hidayatullah.com

Khazanah : Jejak Islam di Italia

muslimah-di-italia

Muslimah di Italia.

Sejarah Islam di Italia diawali pada abad ke-9 saat Sisilia ditaklukkan penguasa Islam. Kehadiran Muslim telah ada sejak 872 M saat penaklukan pertama di Mazara hingga 1300 M. Sejak saat itu hingga 1970-an, Islam bisa dibilang absen di Italia.

Pulau Pantelleria yang berada antara ujung barat Sisilia dan Afrika Utara ditaklukkan oleh bangsa Arab pada 700 M. Sebelumnya, bangsa Arab telah menguasai wilayah Sisilia yang dikuasai Romawi pada 652, 667 dan 720 M.

Hakim dari Sisilia yang memberontak terhadap Kekaisaran Bizantium meminta bantuan Muslim. Hakim Aghlabid dari Ifriqiyah mengirim Arab, Berber dan Andalusia untuk menaklukkan Sisilia pada  827, 830 dan 875 M. Pasukan tersebut dipimpin antara lain oleh Asad ibn al-Furat.

Palermo jatuh ke tangan Muslim pada 831 M, diikuti Messina pada 843 M dan Syracuse pada 878 M. Pada 902 M, Aghlabid sendiri yang memimpin pasukan merebut Taormina. Reggio Calabria jatuh pada 918 M dan Rometta pada 964 M.

Di bawah kepemimpinan Muslim, sektor agrikultural maju pesat dan berorientasi ekspor.  Seni dan kerajinan berkembang di kota-kota. Palermo sebagai ibu kota kaum Muslim saat itu memiliki 300 ribu penduduk. Jumlah tersebut melebihi jumlah seluruh penduduk di Jerman.

Penduduk setempat yang ditaklukkan Muslim sebagian besar beragama Katolik di Sisilia barat. Di bagian timur pulau itu ada juga sejumlah besar orang Yahudi. Mereka diberikan kebebasan menganut agama mereka, tapi ada sejumlah pembatasan.

Mereka diharuskan membayar jizyah atau pajak pendapatan dan kharajatau pajak tanah. Mereka tidak harus membayar zakat. Jizyah dibayarkan sebagai tanda tunduk pada kekuasaan Islam. Sebagai gantinya, penduduk dilindungi dari agresi asing dan internal.

Mereka bisa menghindari status ini. Caranya dengan memeluk Islam. Sebagian besar warga Sisilia akhirnya banyak yang memeluk Islam. Hingga pertengahan abad ke-11, Muslim menjadi mayoritas di Sisilia.

Selama beberapa dekade, Muslim menguasai Mediterania dan menyerang kota-kota di pesisir Italia. Setelah menaklukkan Visigoth di Spanyol, Arab dan Berber dari Septimania dan Narbonne melakukan serangan ke Italia utara pada 729-765 M. Ragusa di Sisilia berhasil dikuasai antara 868 dan 870 M.

pulau-sicilia-italia-

Peta wilayah Sisilia di Italia Selatan yang pernah dikuasai kerajaan Islam. (Inet)

Pada 1059 M, bangsa Norman dari selatan Italia yang dipimpin Roger I menguasai pulau Sisilia. Bangsa Norman menaklukkan Reggio pada 1060 M. Palermo lepas dari kekuasaan Muslim pada 1072 M dan Syracuse pada 1088 M. Pada 1090-1091 M, Norman berhasil menguasai Malta dan Pantelleria pada 1123 M.

Sebagian kecil Muslim bertahan di Sisilia di bawah bangsa Norman. Awalnya, mereka bertoleransi pada Muslim, tapi tekanan dari Paus mendorong diskriminasi. Sebagian besar masjid dihancurkan atau diubah menjadi gereja. Ottoman meneguhkan kekuasaannya hingga ke Italia pada abad ke-15. Hingga abad ke-16 berbagai penaklukan dan tarik ulur perebutan kekuasaan di kota-kota di Italia silih berganti.

Pada Januari 2005, jumlah Muslim di Italia tercatat sebanyak 34 persen dari 2.400.000 warga asing yang mendiami Italia. Jumlah Muslim berkebangsaan asing yang telah mendapatkan kewarganegaraan Italia diperkirakan antara 30-50 ribu jiwa. Jumlah orang Italia asli yang menjadi mualaf kurang dari 10 ribu. Saat ini, Muslim menguasai 1,4 persen dari populasi Italia.

Pada 2012, menurut Uni Komunitas Islam Italia (UCOI),  tercatat 150 ribu Muslim berkewarganegaraan Italia dari satu juta penduduk Muslim. Lembaga itu menyatakan sebanyak 70 ribu warga Italia memeluk Islam. Menurut UCOI, meningkatnya jumlah warga Italia memeluk Islam karena krisis ekonomi dan nilai yang dialami mereka.

http://www.republika.co.id/

http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Italia

Kekuatan Muslim Indonesia-Malaysia bisa Kembalikan Kegemilangan dan Kejayaan Islam

kmmi

Kekuatan Indonesia dan Malaysia bisa disatupadukan untuk mengembalikan kegemilangan Islam. Karena itu, kegiatan Kepemimpinan Muslim Muda Indonesia-Malaysia akan menjadi titik permulaan persaudaraan Islam Malaysia-Indonesia. Demikian disampaikan Dato’ Shahlan Ismail selaku Presiden Sekretariat Transformasi Serantau (STS ).

“Karena itu maka saya harapkan kepemimpinan Muslim muda ini bisa menjadi suatu titik permulaan untuk kita eratkan persaudaraan Islam Malaysia-Indonesia. Semoga bibit-bibit ini bisa menjadi suatu silaturahmi yang bisa menyemaikan bumi Indonesia dan Malaysia,” ujarnya dalam acara Kepemimpinan Muslim Muda Indonesia-Malaysia di  Aula Mahoni MB Institut Pertanian Bogor.

Acara yang diselenggarakan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) bersama Centre for Advanced Studies on Islamic Science and Civilization (CASIS) dan Sekretariat Transformasi Serantau (STS)  ikut dihadiri pendiri CASIS – Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, Dato Shahlan Ismail dari Sekretariat Transformasi Serantau, Prof. Zainy Othman, Rektor UIKA – Dr. Ending Bahruddin dan Dr. Adian Husaini, Adnin Armas, MA.

13353825321776328110

Hubungan Indonesia-Malaysia bagaikan Hubungan Muhajirin-Anshar (Ilustrasi by melayuonline.com)

Kegiatan ini diharapkan bertujuan melahirkan kader-kader penerus pembangunan umat Islam di ranah Melayu dan memperkuat hubungan Indonesia dan Malaysia, juga sebagai perhatian Malaysia terhadap pendidikan Indonesia.

Terkait kepemimpinan, Pendiri dan Pengasas CASIS/Pusat Studi Kajian Tinggi Islam, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud saat memberikan kata sambutan dalam acara tersebut menghimbau agar kita tidak meremehkan pemuda yang berpotensi menjadi pemimpin.

“Seperti Muhammad Al-Fatih yang telah menaklukkan konstantinopel pada usia yang muda,” ungkapnya.

Begitu pun dengan Rektor UIKA, Dr. Ending Bahruddin, ia berharap dari acara tersebut akan lahir pemimpin-pemimpin yang memiliki hati dan memiliki komitmen tinggi terhadap Islam.

Rangkaian kegiatan yang digelar dari pagi hingga malam hari ini tidak hanya di isi dengan seminar, namun juga refleksi, tadzkirah dan para peserta yang sudah terbagi dalam tujuh grup diwajibkan untuk kerja lapangan di kota Bogor kemudian mempresentasikannya di depan peserta yang lain.

Hari kedua, Selasa 05 November 2013, diadakan Kenduri Nusantara dan launching buku Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud yang berjudul “Islamisasi Ilmu-ilmu Kontemporer”.

Acara yang diadakan selama lima hari ini melibatkan 15 pembicara. 79 peserta yang terdiri dari 43 mahasiswa Indonesia dan 36 mahasiswa Malaysia dan diadakan di tiga tempat, Institut Pertanian Bogor, hotel Srigunting dan Hotel Mirah.*

http://www.hidayatullah.com

Presiden Mursi Ungkap Kronologi Kudeta Atas Dirinya

Presiden-Mursi-lambaikan-tangan

Kairo — Tim pengacara Presiden Mursi mengadakan konferensi pers hari ini, Rabu (13/11/2013). Dalam konferensi ini, disebutkan bahwa Presiden Mursi mengirimkan pesan kepada seluruh rakyat Mesir. Berikut pesan tersebut:

“Rakyat Mesir yang mulia, aku ingin menyampaikan kepada kalian gambaran peristiwa yang terjadi pada tanggal 3 Juli. Peristiwa itu adalah sebuah pengkhianatan kepada rakyat. Apa yang terjadi adalah sebuah kudeta militer.

Kudeta adalah sebuah kejahatan yang melanggar undang-undang dan peraturan dalam menggerakkan militer. Kudeta adalah perbuatan mengkhianati Allah swt. dan Rasul-Nya saat menteri pertahanan melakukan sumpah jabatannya. Kudeta juga perbuatan mengkhianati rakyat, karena telah memecah rakyat Mesir padahal mereka adalah sebuah keluarga.

Mesir tidak akan kembali pulih sebelum semua akibat kudeta dihilangkan; semua orang yang terlibat dalam pembantaian diadili. Mereka harus mendapatkan hukuman qisas yang mendatangkan keridhaan Allah swt.

Sejak tanggal 2 Juli, aku telah diculik di markas paspamres. Kemudian pada tanggal 5 Juli aku dipindahkan secara paksa ke salah satu pangkalan militer. Di tempat itu aku hanya sempat bertemu dengan Katerine Ashton (Uni Eropa), delegasi Uni Afrika, dan delegasi hakim yang melakukan pemeriksaan tapi aku menolak menjawab pertanyaan mereka.

Sejak saat itu aku tidak bertemu dengan siapapun sampai tanggal 4 November ketika aku dibawa ke gedung Akademi Kepolisian. Aku tidak pernah bertemu dengan pimpinan militer, media, dan siapapun. Kalau ada yang mengatakan aku bertemu dengan pihak-pihak tertentu, itu tidak ada buktinya.

Aku memberikan salam hormat yang tulus kepada seluruh rakyat yang telah melakukan perlawanan terhadap kudeta ini. Sampai saat ini mereka masih memperlihatkan keteguhan yang tidak ada duanya di dunia. Walaupun ada juga yang tidak mempercayainya, seperti tidak mempercayai adanya matahari yang bersinar.

Akupun bisa teguh dan sabar karena semangat dari para demonstran di jalanan. Maka, bergabunglah dalam membela hak-hak negeri ini, jangan bergabung dalam membela individu siapapun dia dan apapun kedudukannya.

Masa kekuasaan kudeta akan segera berakhir. Pemerintahan kudeta mulai roboh. Roboh karena keteguhan rakyat Mesir. Aku turut mendukung para syuhada dan keluarganya. Aku pastikan, darah mereka tidak akan hilang sia-sia. Darah merekalah yang telah melukis jalan bagi negeri ini.” (msa/dakwatuna/islammemo)

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Optimisme Beltagi dari Penjara: 10 Muharram adalah Hari Binasanya Fir’aun

beltaji-4-311x320

Beltagi saat ditangkap (inet)

Kairo — Dr. Muhammad Beltagi, salah satu pimpinan Ikhwanul Muslimin yang saat ini berada dalam penjara kudeta, mengucapkan selamat kepada umat Islam dengan datangnya tahun baru Islam 1 Muharram 1435.

Dalam sebuah surat yang ditulisnya dari penjara lalu dimuat dalam akun facebooknya, Beltagi mengatakan, “Selamat Tahun Baru Hijriah. Dengan kehendak Allah swt., tahun ini umat Islam akan menuliskan pertempuran yang paling besar.

Umat Islam mempersembahkan pengorbanannya yang sangat besar untuk memperjuangkan kehendaknya yang merdeka. Umat Islam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, kebebasan, dan kemuliaan. Memerangi kedhaliman, kesewenang-wenangan, pemaksaan, dan pembunuhan. Umat Islam akan memperjuangkan hak-hak darah para syuhada; memperjuangkan pengadilan atas para penyiksa dan pengkhianat.

Di antara umat Islam ini ada yang meninggal dunia, menderita luka-luka, dan dipenjara. Sungguh besar pengorbanan yang telah dipersembahkannya. Tapi lebih besar lagi jiwa umat Islam ini yang telah menganggap semua itu biasa saja; harga yang harus dibayarkan dalam perjuangan mendapatkan ridha Allah swt. dan memenangkan keadilan, kebenaran dan kebebasan.

Sebentar lagi umat Islam akan melaksanakan puasa Tasu’a dan Asyura (9 dan 10 Muharram). Puasa hari itu adalah ungkapan syukur kepada Allah swt. yang telah membinasakan Firaun. Raja yang memaksakan kekuasaannya saat rakyatnya lemah.

Raja yang mengaku seenaknya mengatas-namakan rakyatnya berbuat kejahatan. “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.” [Ghafir; 29].

Raja yang meminta mandat untuk membunuhi rakyatnya dengan dalih memerangi terorisme. “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.”[Ghafir; 26].

Raja yang membunuhi anak-anak muda, aset masa depan negara, “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka.” [Al-A’raf: 127].

Raja ini terus melakukan kejahatannya, hingg datanglah siksaan dari Allah swt. “Maka Kami hukumlah Firaun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut.  Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang dlalim.” [Al-Qashash: 40]. (msa/dakwatuna/klmty)

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Tawaran Jenderal Anjing As-Sisi yang Terakhir

assisi1-320x179

Jenderal anjing As-Sisi, menteri pertahanan, pimpinan kudeta di Mesir (inet)

Kairo — Jurnalis dan pengamat politik, Salim Azuz, menulis dalam akun facebooknya hari ini, Rabu (26/11/2013) bahwa As-Sisi saat ini sedang melakukan perundingan dengan Presiden Mursi, agar Presiden Mursi kembali menempati jabatannya.

Azuz mengatakan, dulu Presiden Mursi pernah menawari As-Sisi menjadi perdana menteri, tapi dia menolak. Banyak orang menilainya sebagai orang yang zuhud, tidak mau jabatan yang tinggi.

Namun waktu membuktikan bahwa saat itu As-Sisi ternyata menginginkan jabatan yang lebih tinggi daripada perdana menteri.

Setelah merasa gagal mendapatkannya, saat ini As-Sisi meminta kepada Presiden Mursi untuk mempertahankan jabatannya sebagai menteri pertahanan. Dia meyakini ada dukungan dan jaminan dari Eropa. Namun demikian Presiden Mursi menolak, tidak setuju.

Oleh karena itu, Azuz mempunyai keyakinan, tidak ada lagi jalan bagi As-Sisi selain meninggalkan Mesir, dan pergi ke Dubai bergabung dengan Ahmad Syafiq, mantan capres yang dikalahkan Presiden Mursi.

Beberapa sumber berita menyebutkan adanya usaha beberapa elit militer mendatangi Presiden Mursi, dan mengajukan inisiatif solusi yang mengharuskan militer mengajukan permintaan maaf atas semua yang terjadi, lalu semua kondisi kembali normal seperti sebelum 3 Juli 2013. (msa/dakwatuna/islammemo)

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Beberapa Jenderal Meminta Maaf kepada Presiden Mursi

presiden-Mursi-cerah-320x213

Presiden Mursi (islammemo)

Kairo — Jaringan berita rassd, memberitakan dari sebuah sumber elit di kementrian pertahanan Mesir. Ada beberapa jenderal dan elit militer pernah mendatangi Presiden Mursi dalam tahanannya akhir-akhir ini.

Mereka mengajukan proposal “Inisiatif Penyesalan”. Mereka siap membantu menyelesaikan krisis politik di Mesir dengan syarat mendapatkan pengampunan.

Sumber informasi, yang juga turut menemui Presiden Mursi di tempat tahanannya pekan lalu, mengatakan bahwa inisiatif solusi ini berisi permintaan maaf lembaga militer secara resmi kepada Presiden Mursi atas sikap dan tindakan memalukan yang dilakukan oleh beberapa petinggi militer.

Para petinggi itu tidak mewakili mayoritas militer. Mereka hanya memanfaatkan jabatan politiknya untuk mendapatkan pengaruh, fasilitas, dan menguasai potensi-potensi militer.

Di antara isi inisiatif solusi itu juga mengembalikan persepsi yang benar tentang militer kepada rakyat. Persepsi rakyat tentang militer telah tercoreng oleh tindakan bodoh dan murahan yang dilakukan para pengkudeta. Rakyat harus meyakini bahwa militer bertugas pokok melindungi perbatasan dan menjaga negara dari serangan eksternal.

Presiden Mursi menyatakan menerima dan setuju dengan inisiatif ini. Tapi beliau mensyaratkan, pengampunan tidak meliputi orang-orang yang sudah berlumuran darah rakyat Mesir. Pengampunan hanya diberikan kepada militer yang tidak terlibat dalam pembunuhan dan provokasi tindak kekerasan terhadap demonstran. Sedangkan militer yang terlibat harus diadili dalam pengadilan militer.

Presiden Mursi juga meminta para jenderal menyiapkan gambaran yang tepat bagaimana mengelola lembaga militer setelah mereka kembali ke barak dan berkonsentrasi mengemban tugas utamanya. (msa/dakwatuna/islammemo)
Sumber: http://www.dakwatuna.com

%d bloggers like this: