Posts from the ‘TIPS DAN TRIK’ Category

Problem Solving: Puasa dan Deradikalisasi Koruptor

Oleh: Fahmi Salim, MA

Alhamdulillah Ramadan telah tiba. Sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, kita harus pandai memetik pelajaran dari “sekolah” Ramadan ini. Bangsa kita saat ini dililit dua problem besar; korupsi dan terorisme, atau kekerasan atas nama agama. Kedua-duanya selain dinilai perbuatan fasad fil ardh (kerusakan di muka bumi) adalah juga ironi bagi bangsa kita yang dikenal bermoral baik dan damai selama berabad-abad.

Seiring dengan kasus-kasus terorisme di tanah air sejak Bom Bali (2002) hingga kini, bangsa kita makin akrab dengan istilah deradikalisasi yang diusung pemerintah lewat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Deradikalisasi merupakan upaya menetralisir paham radikal bagi mereka yang terlibat aksi terorisme dan para simpatisannya serta anggota masyarakat yang telah terekspos paham-paham radikal, melalui reedukasi dan resosialisasi serta menanamkan multikulturalisme.

Drama penangkapan pelaku teror yang sering ditampilkan media massa dan euphoria kemarahan terhadap ideologi menyimpang yang ada dalam otak pelaku teror, sering melalaikan kita atas penanganan dan pemberantasan korupsi. Ada ketimpangan cukup besar dalam upaya aparat penegak hukum memberantas aksi terror dan korupsi. Biasanya vonis untuk kasus terorisme rata-rata diatas 7 tahun penjara hingga hukuman mati. Bandingkan dengan vonis untuk kasus korupsi yang mayoritas “hanya” diganjar 2-4 tahun penjara, dan bisa dapat remisi, serta tak ada hukuman mati buat koruptor.

Selain soal vonis yang ringan itu, tak ada program atau langkah serius dari aparat penegak hukum untuk menetralisir dan membunuh keserakahan materi sebagai akar persoalan korupsi, seperti halnya program deradikalisasi untuk teroris dan simpatisannya.

Padahal kedua-duanya, jika kita mau jujur, berdaya rusak yang tinggi bagi moral dan keadaban manusia yang universal. Jika ulama sering berdalil dengan Alquran yang menyatakan, “Siapa saja yang membunuh satu jiwa bukan karena membunuh orang lain atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan dia telah membunuh semua manusia” (QS Al-Maidah: 32) untuk mengutuk aksi terror, maka ayat yang sama juga harus dipakai untuk mengutuk keras korupsi dan mendorong hukuman yang menjerakan secara efektif bagi para koruptor dan calon-calon koruptor.

Bukankah dengan korupsi, seseorang telah merampas kekayaan Negara yang seharusnya digunakan untuk pembangunan fasilitas-fasilitas umum dan memperkuat program pemberantasan kemiskinan, yang melanda sebagian besar bangsa ini? Bukankah dengan demikian, si koruptor telah membunuh dan menghilangkan kesempatan mayoritas anak bangsa untuk hidup lebih sejahtera dan masa depan yang lebih cerah?

Jika Densus 88 dan BNPT ditugasi memberantas terorisme dan program deradikalisasi, maka sudah sepantasnya KPK dan Densus 99, selain mencegah dan menindak pidana korupsi, harus bekerjasama dengan kekuatan masyarakat madani di tanah air untuk melakukan deradikalisasi koruptor dengan langkah rehabilitasi akidah dan keimanan bahwa Allah Maha Pemberi Rizki; tak perlu ada korupsi jika semua orang sadar bahwa rezekinya telah diatur secara adil oleh Allah. Juga perlu reedukasi akhlak bagi para penyelenggara Negara, serta wacana pemiskinan koruptor, hukuman mati, dan penerapan pembuktian terbalik dalam kasus korupsi perlu segera diimplementasikan.

Dalam konteks inilah, ibadah puasa Ramadan yang berfungsi mengerem dan mengekang syahwat perut dan syahwat kuasa -yang mendorong seorang melakukan tindak korupsi untuk kepentingan keluarga, kelompok dan partainya-, harus dijadikan instrumen penting reedukasi dan rehabilitasi keimanan agar rasa pengawasan Allah senantiasa melekat dalam dirinya. Seluruh elemen bangsa ini memang sudah seharusnya belajar kembali arti pengendalian nafsu angkara murka lewat pendidikan Ramadan sebulan penuh!

*Penulis adalah Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia/MIUMI

http://ramadan.detik.com

5 Cara Mengajarkan Anak Berhemat dan Menabung


Manabung (Ilustrasi by Inet)

Orang yang sukses adalah yang tahu cara mengatur uangnya dengan baik, yaitu cara menyimpan dan membelanjakan uang dengan tepat. Cara yang paling efektif adalah dengan mengetahui betapa pentingnya menabung.

Menabung sangatlah penting karena bisa mengajarkan kita betapa berharganya uang tersebut. Sesuatu yang penting seperti menabung sebaiknya dipelajari sedini mungkin demi masa depan yang cerah.

Seorang yang pintar dalam mengelola uang tidak bisa dibentuk hanya dalam satu hari. Mereka belajar dari pengalaman bertahun-tahun ditambah dengan bimbingan orang tua sejak kecil.

Maka dari itu, tidak ada salahnya jika anda mulai berbagi keahlian anda sebagai pengelola uang kepada anak-anak anda yang masih hijau. Supaya mereka bisa mengerti dan menghargai bahwa uang itu sangat berharga dan tidak baik untuk dihambur-hamburkan.

Berikut ini adalah lima tips yang dikutip dari Financial Highway, Rabu (21/2/2012), yang bisa anda terapkan untuk si kecil dalam belajar menabung:

1. Buka tabungan pribadi untuk anak anda

Tabungan ini akan memberi mereka harapan punya uang sendiri suatu hari, dan mulai menabung sejak dini. Setelah rekening dibuka, semangati anak untuk disiplin mengisi tabungan secara teratur, atau bisa juga anda minta anak anda menabung di rumah terlebih dahulu setelah itu bawa celengan ke bank bersama-sama untuk dimasukan ke tabungan.

2. Biasakan anak menyisihkan uang jajan

Setelah punya rekening atau celengan pribadi di rumah, biasakan anak anda untuk menyisihkan sebagian uang jajan atau uang lain yang ia terima, misalkan pemberian dari kakek-nenek atau paman-bibi. Jangan sampai uang yang untuk ditabung sengaja diberi oleh anda.

Contohnya, selalu minta kepada anak anda untuk menyisihkan 10% dari total uang jajang yang anda beri setiap minggu. Aktifitas seperti ini yang merangsang anak untuk menabung secara otomatis jika nanti sudah terbiasa.

3. Buat daftar belanjaan khusus untuk anak

Ketika berbelanja bulanan, anda tidak harus meninggalkan anak di rumah. Anak anda boleh ikut, dengan syarat ia punya daftar belanjaan sendiri. Daftar belanjaan anak itu harus didiskusikan dengan anda, sehingga anak anda akan tahu mana yang kebutuhan dan mana keinginan.

Dengan demikian, anak anda akan tahu mana yang menjadi prioritas. Saat berbelanja usahakan untuk tidak melenceng dari daftar tersebut. Secara tidak sadar, lambat laun anak anda akan terbiasa memprioritaskan merancang daftar kebutuhannya setiap bulan.

4. Matikan alat rumah tangga jika tidak digunakan

Berhemat tidak selalu harus berhubungan dengan uang, dengan memelihara peralatan rumah tangga juga sudah termasuk berhemat. Terapkan hal ini pada anak anda sehingga ia terbiasa menghargai barang. Jika barang miliknya terawat, maka ia tidak harus sering membeli barang baru dan uangnya bisa untuk ditabung.

Beberapa contohnya adalah, mematikan komputer jika tidak digunakan, matikan lampu saat keluar ruangan. Biarkan ia terbiasa dengan hal ini sehingga di masa depan ia bisa lebih berhemat.

5. Beli barang sesuai kebutuhan utama

Jangan pernah mengajarkan pemborosan pada anak. Orang tua biasanya tidak tahu antara batasan pemborosan dan sayang anak. Sayang anak berarti mempersiapkan anak untuk kehidupannya di masa depan, sementara pemborosan adalah membelikan banyak barang asalkan anak senang tanpa tahu konsekuensinya di masa mendatang.

Jangan biarkan anak terlena dengan hidup enak meski anda berpenghasilan sangat lebih. Terlalu banyak memberi barang membuat anak tidak berpikir dewasa dan malah kurang menghargai barang tersebut. Utamakan barang-barang kebutuhan utamanya, seperti perlengkapan sekolah dan lain-lain. Beri barang-barang non primer pada saat-saat tertentu, seperti waktu kenaikan kelas.

http://finance.detik.com

9 Pertanda Anda Terancam Bangkrut?

Kita semua pasti pernah mengenal orang yang mengalami masalah keuangan. Biasanya, setelah menemui jalan buntu, mereka akhirnya meminta bantuan pinjaman dari keluarga, menarik uang tunai dari kartu kredit, atau mencari pinjaman dengan bunga yang sangat tidak masuk akal.

Situasi seperti itulah yang bisa dibilang bangkrut. Jika anda belum pernah menjumpai situasi seperti di atas, anda masih beruntung. Kalau bisa, jangan sampai hal seperti itu menimpa diri anda.

Berikut ini adalah beberapa contoh orang yang sedang di ambang kebangkrutan, seperti dikutip dari Money Matters, Selasa (14/2/2012). Semoga dengan mengetahui ciri-ciri kebangkrutan ini sejak awal, anda benar-benar bisa terhindar dari kebangkrutan.

1. Tidak tahu uangnya lari ke mana saja

Kebanyakan orang yang akan atau sudah bangkrut selalu merasa kekurangan uang, karena mereka tidak tahu ke mana larinya uang yang sudah mereka dapatkan. Pasalnya, mereka juga tidak punya rincian pengeluaran bulanan, apalagi rincian mengenai pengeluaran kecil lainnya. Anda bisa menghindari hal ini dengan membuat rencana pengeluaran bulanan dan jangan keluar jalur dan belanja yang tidak-tidak.

2. Tidak punya rencana jangka panjang

Ciri-ciri orang yang kekurangan uang karena tidak punya rencana jangka panjang, baik itu tabungan maupun investasi. Jika saja mereka punya rencan untuk satu bulan, itu akan lebih baik daripada tanpa rencana sama sekali. Walaupun akhirnya rencana tersebut meleset dari target semula, setidaknya anda sudah punya rencana.

3. Belanja barang yang tidak perlu

Pastinya anda punya teman, kenalan atau bahkan saudara yang sangat mencintai belanja dan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Seri terbaru iPhone baru saja dirilis? Mereka langsung beli, dengan segala cara (tunai atau kredit), walaupun versi yang sebelumnya masih ada dan berfungsi dengan baik. Pesawat televisi dengan layar data terbaru baru saja keluar? Mereka langsung beli supaya dibilang tidak ketinggalan jaman karena punya teknologi terbaru.

4. Korban gaya hidup mewah

Kebanyakan orang dengan gaji besar selalu tak mau ketinggalan dengan gaya hidup masa kini yang serba mewah, Bahkan, tak jarang mereka menghabiskan banyak uang hanya untuk gaya hidup tersebut. Daripada memilih untuk menabung dan berinvestasi, mereka memilih untuk meninggikan standar hidupnya, dengan membeli rumah lebih besar, mobil baru dan pakaian dengan mode terbaru. Mereka selalu merasa harus lebih unggul ketimbang orang lain di lingkungannya.

5. Selalu membayar lebih mahal tanpa pikir panjang

Kebanyakan orang menjadi bangkrut karena hal seperti ini. Mereka selalu cepat mengeluarkan uang tanpa mengetahui nilai asli sebuah barang. Bahkan, mereka tidak pernah bertanya apakah harganya masih bisa ditawar atau mendapat diskon. Kalau memang bisa membayar lebih murah, kenapa tidak? Jangan pernah membayar sesuatu lebih mahal dari harga pasaran.

6. Selalu berutang di setiap kesempatan

Selama masih bisa berutang, mereka pasti lakukan. Mereka sepertinya tidak pernah dengan bahwa semakin lama jangka waktu pembayaran maka uang yang harus dibayar menjadi semakin tinggi. Apalagi dengan iming-iming bunga 0% dalam tiga bulan pertama. Selanjutnya, mereka akan tanpa sadar mengambil kredit lagi dan lagi sampai akhirnya terlilit utang.

7. Mengandalkan orang lain untuk masalah keuangannya

Kebanyakan dari kita pasti pernah tahu seseorang yang selalu meminta bantuan kepada orang tua, keluarga atau temannya jika terlibat masalah keuangan. Masalah yang mereka dapat dilakukan oleh sendiri tetapi berharap bisa diselesaikan oleh bantuan orang lain.

8. Mengorbankan keuntungan masa depan demi kesenangan sesaat

Orang seperti ini biasanya kesulitan untuk mengerti bahwa berhemat dan bekerja keras akan menghasilkan keuntungan di masa depan, daripada menghambur-hamburkan uang di masa kini. Mereka biasanya tidak sadar bahwa menabung di masa kini bisa meningkatkan kesenangan di masa depan.

9. Lebih senang orang mengira dirinya kaya, daripada benar-benar kaya

Satu lagi ciri orang yang tidak akan lepas dari kebangkrutan adalah senang dikira banyak uang oleh banyak orang, meski yang sebenarnya justru sebaliknya. Mereka tidak peduli apakah benar-benar sukses atau tidak, yang penting orang mengira dirinya sukses dan punya harta melimpah.

Kesimpulan:

Beberapa ciri di atas diharapkan bisa membantu anda untuk tidak terjebak hal yang sama. Mungkin beberapa dari kita sudah ada yang mengalami satu atau dua poin di atas, anda belum terlambat untuk memperbaiki diri. Lakukan perubahan demi masa depan yang lebih baik. Kalau anda sudah tahu masalahnya, maka tinggal mencari cara mengatasinya.

http://finance.detik.com

Pentingnya Merawat dan Memperbaiki Batin

Oleh: Ali Akbar Bin Agil

DALAM sebuah kisah sufi yang terkenal, tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pemuda ahli ibadah dan seorang pecinta dunia. Suatu hari, si ahli ibadah memasuki hutan yang penuh dengan singa. Melihat kedatangan pemuda ahli ibadah tadi, singa-singa di hutan itu merasa senang dan menyambutnya. Sementara itu, si pecinta dunia yang tatkala itu sedang berburu, baru saja memasuki hutan yang sama. Melihat kedatangan si pecinta dunia dan rombongannya, singa-singa itu mengaum siap menerkam sehingga membuat mereka merasa ketakutan.

Si ahli ibadah melihat kejadian itu dan dia berusaha menenangkan singa-singa tersebut. Maka berkatalah si ahli ibadah kepada si pecinta dunia dan orang-orangnya setelah menenangkan singa-singa ini, “Kalian hanya memperbagus dan memperindah penampilan luar saja, maka kalian takut kepada singa. Adapun kami, kami selalu memperbaiki dan memperbagus batin kami, sehingga singa pun takut kepada kami.”

Kisah di atas memuat pelajaran penting tentang hati sebagai pusat kebaikan. Hati adalah ibarat Raja yang punya hak veto dalam memerintah seluruh anggota jasmani menuju perbuatan baik atau jahat. Untuk merawat dan memperindah hati agar bercahaya, maka seseorang perlu terus-menerus mempertahankan dan mengamalkan kebaikan. Hati akan terus bersih, bening dan bercahaya jika kejahatan terus dihindari, jauh dari debu-debu dengki, riya`, takabbur, dan cobaan dijalani dengan ikhlas.

Memelihara hati bukanlah tugas yang sulit. Ini merupakan tugas yang wajib dilakukan setiap Muslim. Andaikata pun sulit atau mudah, itu harus dilakukan agar hati yang bersih berpendar dengan sinar kebaikan. Hati adalah wajahnya jiwa. Orang yang jiwanya baik, hatinya akan baik. Cara memperbaiki jiwa dengan memperbaiki hati.

Hati, dalam pandangan Imam Abdullah Al-Haddad adalah tempat penglihatan Allah. Sebelum yang lain, Allah melihat hati seseorang terlebih dahulu. Di sisi berbeda, anggota lahir badan kita menjadi tempat perhatian sesama makhluk yang acap dipandang dengan pandangan kekaguman.

Dalam sebuah doanya, Rasulullah SAW mengatakan :

“Allahummaj`al Sariiratiy Khairan Min `Alaaniyatiy Waj`al `Alaaniyatiy Shaalihah.” (Ya Allah, jadikanlah keadaan batinku lebih baik dari keadaan lahirku dan jadikanlah keadaan lahirku baik). Inilah salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi kepada Allah. Di dalamnya terkandung permintaan agar menjadikan suasana hati lebih bagus ketimbang keadaan lahir.

Pertanyaanya, mengapa nabi menitikberatkan pada batin atau hati? Imam Abdullah menjawab: “Ketika hati baik, maka keadaan lahir akan mengikuti kebaikan itu pula. Ini merupakan sebuah kepastian.” Keyakinan ini didasarkan pada peringatan sabda Nabi Muhammad SAW sendiri: “Di dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim)

Hati Sebagai Pusat Segalanya

Setiap orang pasti menyukai keindahan. Banyak orang yang memandang keindahan sebagai sumber pujian. Ribuan kilometer pun akan ditempuh demi mencari suasana dan pemandangan yang indah. Uang berjuta-juta akan dirogoh untuk memperindah pakaian. Waktu akan disediakan demi membentuk tubuh yang indah.

Perhatikan bagaimana Rasulullah SAW yang meski pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa dan pangkat, tapi tidak berkurang kemuliaannya sepanjang waktu. Rasulullah SAW tidak menempuh ribuan kilo, merogoh harta demi singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, penghargaan terhadap beliau tidak luntur dan menyusut ditelan masa. Beliau adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya. Kunci keindahan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.

Hati adalah penggerak, raja, poros, dan pusat segala ibadah. Hati yang thuma`ninah (tenang) akan dapat membuat orang ringan bangun malam, membaca Al-Qur`an, datang ke masjid, dan semua amal shalih lainnya. Hati bisa mengajak kepada kebaikan sekaligus di saat yang sama bisa mengajak kepada kejahatan.

Kita melihat tidak sedikit orang yang mempunyai anggapan bahwa melakukan maksiat tidaklah mengapa asal hati kita baik. Anggapan dan keyakinan seperti ini jelas merupakan kesalahan besar. Menurut Imam Abdullah, orang yang berpendirian semacam ini adalah pendusta besar. Lahir dan batin haruslah berimbang dan sama-sama baik. Seumpama makanan, ia akan diminati orang jika isi dan bungkusnya baik.

Kebaikan yang dibuat-buat juga harus dihindari. Ada orang yang berjalan membungkuk, mengenakan tasbih, pakaiannya pakaian orang saleh. Di balik semua ini, kita melihat dalam batinnya orang seperti ini tertanam cinta dunia mengakar kuat, keangkuhan, kebanggaan pada diri sendiri, serta kegilaan pada pujian. Menurut Imam Abdullah, orang semacam ini adalah orang yang berpaling dari Allah.

Dalam sebuah peristiwa, Sayidina Umar ra. melihat seorang yang berjalan di hadapannya dengan membungkuk sebagai bentuk ke-tawadhu-an. Melihat ini, Sayidina Umar berkata, “Takwa itu bukan dengan cara membungkukkan badanmu. Takwa itu ada di dalam hati.”

Bagaimana jika seseorang tidak mampu memperbaiki batin lebih dari keadaan lahirnya? Menurut Imam Abdullah Al-Haddad, hendaknya ia menyamakan kebaikan lahir dan batin meski idealnya meningkatkan kebaikan batin lebih diutamakan dan disukai.

Orang yang memiliki hati yang bersih, tak pernah absen bersyukur kepada Allah, Penguasa jagat alam raya ini. Pribadinya menyimpan mutu dan pesona. Tak mudah jatuh dalam kesombongan dan kepongahan di kala merebut sesuatu namun tetap istiqamah tunduk pada Allah.

Orang yang mempunyai hati yang baik akan terus bersikap rendah hati walaupun berpangkat tinggi dan harta melimpah.

Mari bersihkanlah hati ini, beningkanlah dari segala kotoran, isilah dengan sifat-sifat yang baik agar ia tetap terang benderang, bersinar dan bercahaya serta selalu cenderung kepada kebaikan dan takwa.*

Penulis staf pengajar di Ponpes. Darut Tauhid, Malang- Jawa timur

hidayatullah.com

Ingin Dapat Rahmat dari Alloh SWT? Jadilah Pribadi Santun

Oleh: Imam Nawawi

KERAS hati, pemarah, pendendam dan pendengki merupakan sikap yang lahir karena ketidakberdayaan akal dan kesadaran, melawan dorongan nafsu yang selalu dikobarkan oleh Setan. Akibatnya kekuatan iman perlahan-lahan terus mengalami kemunduran. Jika ini terjadi secara terus-menerus, sungguh rahmat Allah mustahil akan menemani hidup kita.

Pada dasarnya setiap manusia sangat berpotensi terjebak oleh rayuan Setan. Oleh karena itu, Allah mengajarkan kepada umat Islam untuk pandai-pandai mengendalikan nafsu. Sebab bagi siapa yang gagal mengendalikan nafsunya bisa dijamin ia akan menjadi sosok manusia yang dibenci, dijauhi, bahkan dimusuhi.

Memilih untuk tidak marah terhadap cercaan, cemoohan dan gangguang orang lain merupakan satu pilihan yang berat.

Tetapi Allah dan rasul-Nya tetap memerintahkan umat Islam untuk memilih yang berat itu (dengan tidak marah) . Bahkan Allah memerintahkan kita untuk santun (lemah lembut) bersegera dalam memaafkan, bahkan sampai pada tahap memohonkan ampunan, serta mengajak orang yang sering memancing emosi kita untuk bermusyawarah.

Sebab marah sama sekali tidak akan menghasilkan apapun. Lihatlah Rasulullah saw tatkala memulai dakwah di Makkah. Setiap hendak menuju masjid, beliau selalu diludahi oleh seorang kafir Quraisy. Rasulullah pun berlalu tanpa terganggu emosinya. Akhirnya setiap menuju ke masjid, beliau harus selalu diludahi, dan beliau tetap tidak marah.

Suatu hari rasulullah hendak ke masjid, dan ketika sampai dimana beliau harus diludahi, saat itu tak ada ludah yang menimpanya. Apa sikap nabi kita yang mulia itu?

Beliau mencari tau, dimana gerangan orang yang selama ini selalu meludahinya, kok hari ini tidak meludah lagi kepadanya? Subahanallah.

Sesaat setelah mengetahui bahwa sang peludah itu dalam keadaan sakit, beliau pun segera menjenguknya. Melihat kedatangan rasulullah, spontan sang peludah terharu, menyesal dan sangat terkesima dengan sikap rasulullah saw. Peludah itu pun bersyahadat.
Bayangkan jika Rasulullah saw, membalas sikap tidak manusiawi sang peludah itu, tentulah sang peludah itu tidak akan pernah mengerti kemuliaan ajaran Islam dan keagungan akhlak rasulullah saw, sehingga dia tetap dalam kesesatan.

Pada masa-masa awal dakwah Islam, sejarah membuktikan bahwa akhlak yang mulia, atau kesantunan, menduduki peringkat tertinggi yang menjadi faktor penting, seseorang menyatakan diri masuk Islam. Ketika itu orang belum mampu berpikir layaknya manusia modern saat ini. Tetapi jangan salah, di zaman modern pun akhlak yang mulia atau kesantunan juga merupakan senjata yang efektif untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan.

Tetapi,kini itu semua tak lagi mendapat perhatian apalagi diutamakan. Lihat saja negeri kita hari ini. Mengapa seolah-olah bangsa ini tak akan bisa keluar dari masalah? Sebab semua bicara, semua merasa dirinya layak didengar, dan sedikit yang mengalah, apalagi bekerja benar-benar karena Allah dan rasul-Nya.

Akhlak tak lagi mendapat perhatian, kesantunan tak lagi dianggap sebagai keistimewaan. Dalam situasi demikian, tentu rahmat Allah jauh dari kehidupan kita.

Perselisihan terus terjadi bahkan pertengkaran dan tawuran justru menjadi hiasan kehidupan manusia yang tidak lagi berakhlak dan tidak mengenal kesantunan. Akhirnya, kritik, saran, pernyataan, banyak yang tidak berbobot, apalagi solutif. Yang ada selalu memicu perdebatan, perselisihan, dan seterusnya.

Menarik apa yang Allah perintahkan kepada kita semua, bahwa jangankan kepada saudara seiman, kepada raja kafir pun kita diperintahkan untuk berbicara lemah lembut penuh kesantunan. Lihatlah bagaimana Allah berpesan kepada Musa dan Harun ketika keduanya harus memberi peringatan kepada Fir’aun, seorang raja yang sangat kejam dan dholim.

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS.Thaha/20: 44).

Maka tidaklah mengherankan mengapa Nabi Muhammad lebih memilih bersikap santun, lemah lembut dalam menjalani kehidupannya. Sebab pada sifat lemah lembut, kesantunan, bahkan akhlak mulia terdapat sebuah kekuatan besar, yaitu adanya peluang kembalinya kesadaran seseorang untuk bisa mengetahui kebenaran dan kebatilan lalu mengikuti kebenaran dan meninggalkan kebatilan.

Hampir bisa dipastikan, di zaman nabi hampir tidak ada orang masuk Islam karena perdebatan. Tetapi masuk Islam karena kesantunan dan sifat lemah lembut rasulullah saw. Hal ini lebih banyak buktinya. Jadi marilah kita berusaha menjadi pribadi yang santun, lemah lembut dan berakhlak mulia.

Sebab Allah telah menegaskan secara gamblang bahwa kesuksesan Nabi Muhammad dalam dakwah adalah karena rahmat-Nya berupa kesantunan. Dan, siapa pun kita jika ingin sukses, mendapat rahmat Allah maka harus memilih kesantunan sebagai perangai diri. Bukan kebencian, kedengkian, dan permusuhan.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِي

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS.Ali-Imraan/3: 159).

Apabila kita telah berusaha menjadi pribadi santun dan ternyata belum ada perubahan pada apa yang kita harapkan berubah. Serahkanlah semua kepada Allah, sebab kita hanya berkewajiban untuk menjadi pribadi yang santun. Kita sama sekali tidak punya kekuatan untuk merubah kondisi hati orang lain. Dan, Allah pasti punya maksud yang lebih baik, lebih indah, bahkan lebih canggih dari setiap situasi dan kondisi yang kita hadapi. Wallahu a’lam.

hidayatullah.com

Perbaikan Bangsa, Dimulai Dari Perbaikan Karakter Individu

Oleh: Mahfud Achyar

Sahabat, suatu ketika saya menghadiri sebuah forum mahasiswa di kampus saya sendiri, yaitu Universitas Padjadjaran. Forum tersebut merupakan forum yang sengaja didesain guna membahas masalah seputar bangsa dan masalah kampus.

Salah satu tema yang diangkat pada saat itu adalah Mengubah Dunia dari Bangku Kuliah. Anda tahu siapa yang menjadi pembicara pada forum tersebut? Atau apa Anda menduga bahwa pembicara pada forum tersebut adalah orang yang populer, yang memiliki jam terbang yang tinggi? Tidak! Pembicara pada forum tersebut adalah perwakilan mahasiswa dari masing-masing fakultas. Mereka diminta untuk menyampaikan narasinya tentang How to change Indonesia?

Seingat saya, pembicara pada forum tersebut berjumlah sepuluh orang. Dan setiap pembicara diberi satu pertanyaan yang sama, yaitu Menurut Anda, apa hal yang paling mendasar yang harus diperbaiki di bangsa Indonesia?

Semua pembicara pun menjawab berdasarkan basic keilmuan masing-masing. Namun, jika diambil benang merahnya, rata-rata mereka mengutarakan bahwa hal yang paling mendasar yang harus diubah oleh bangsa Indonesia adalah KARAKATER bangsa. Saya pun berpikir keras, mengapa mereka bersepakat bahwa karakter bangsalah yang mesti diperbaiki dulu, bukan sektor yang lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Well, setelah berpikir cukup dalam. Akhirnya saya menemukan jawabannya. Menurut saya, karakter bangsa menentukan apakah suatu bangsa mampu menjadi bangsa besar atau tidak. Lantas pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana dengan karakter bangsa Indonesia? Sejauh ini menurut pengamatan saya, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa karakter bangsa Indonesia berada pada posisi tertentu. Toh, pada dasarnya karakter bukanlah hitungan matematis yang dapat diukur secara kuantitatif. Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan yang membedakan seseorang dengan orang lain.

Karakter merupakan fase kedua dalam merepresentasikan kejiwaan manusia. Fase pertama ialah sifat, selanjutnya karakter, tabiat, dan watak. Menurut ilmu psikologi, sifat dan karakter bisa diubah sejauh pribadi/kelompok masyarakat tersebut mau untuk mengubahnya. Sementara itu, karakter sulit diubah, tapi bukan berarti tidak bisa diubah sama sekali!.

Lantas, apa karakter bangsa Indonesia pada kondisi kekinian? Studi mengenani hal tersebut rasanya tidak perlu diulas cukup mendalam. Faktanya media massa sebagai medium message nyata-nyata sudah memaparkan secara gamblang kondisi bangsa kita.

Miris. Begitulah kondisi karakter bangsa yang dulu dipuja-puji bangsa. Maaf, bukannya saya ingin bernostalgia dengan masa lampau. Rasanya di masa lampau kita memang tidak segemilang yang dikatakan orang. Namun, jika dikomprasikan dengan masa kini, ada banyak hal yang membuat kita mengelus dada.

Maka siapa pun tidak akan mengelak bahwa memang karakter bangsalah yang harus diperbaiki. Saya tidak ingin mengatakan saya malu sebagai bangsa Indonesia. Toh pada dasarnya saya merupakan entitas dari bangsa besar ini. Saya tidak ingin menjadi bagian dari para pecundang yang hanya bisa mengutuk kegelapan. Dan sama sekali tidak ada itikad baik untuk menyalakan cahaya. Saya peduli pada bangsa ini, saya yakin karakter bangsa ini suatu saat akan berubah. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha semampu kita. Karena jika kita mau, apa pun pasti bisa.

Mengutip apa yang disampaikan ibu Marwah Daud Ibrahim dalam bukunya Mengelola Hidup Merencanakan Masa Depan (MHMMD)

Kesuksesan bangsa adalah akumulasi dari kesuksesan individu

Maka cara paling sederhana atau yang paling bisa kita lakukan saat ini adalah ubahlah karakter Anda menjadi karakter yang penuh integritas.

Persoalan karakter memang sulit diubah, bahkan kerap kali karakter sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup suatu individu atau kelompok.

Saya teringat dengan tausiyah yang disampaikan Bang Sandiaga Uno pada malam i’tiqaf ke-27 di masjid Al-Azhar, Jakarta. Beliau menceritakan salah satu pengalamannya ketika menempuh studi di Amerika. Menurut saya, pengalaman beliau ini bisa menjadi pemantik kita untuk berubah. Hingga pada akhirnya kita bisa berkata, “Ok, let’s change our habit!”

Amerika–saat salju baru saja membasahi kampus bang Sandiga Uno. (Cerita sudah mengalami revisi, tapi tidak mengurangi esensi dari cerita itu sendiri)

Saat itu kami mahasiswa dari Indonesia berkumpul di cafeteria untuk menikmati kehangatan bersama pasca salju yang turun semalaman. Seperti biasa, jika turun salju dapat dipastikan kondisi jalan atau pun lantai menjadi licin. Dan hal tersebut tentu saja berbahaya bagi pejalan kaki. Maka dibutuhkan kehati-hatian yang cukup ekstra supaya tidak tergelincir.

Rupanya tidak hanya mahasiswa Indonesia saja yang saat itu di cafeteria. Ada kumpulan mahasiswa dari Jepang dan mahasiswa dari Eropa. Mereka menikmati kebersamaan sembari bercanda satu sama lain.

Kemudian, seorang teman saya yang juga mahasiswa asal Indonesia berlari menuju ke tempat kami. Saya khawatir kalau-kalau teman saya tersebut tergelincir. Tiba-tiba. hanya selang beberapa menit dari apa yang saya pikirkan, ternyata benar. Teman saya tersebut tergelincir dan tubuhnya terpental.

Dan Anda bisa bayangkan apa reaksi dari tiga meja yang ada di cafeteria?

o meja mahasiswa Indonesia?

Sontak teman-teman saya tertawa terbahak-bahak melihat teman kami yang tergelincir. Sesekali juga terdengar ejekan mengudara dari mulut mereka. Ya, itulah respon teman-teman saya saat itu. Lantas bagaimana dengan kumpulan mahasiswa non-Indonesia?

o meja mahasiswa Jepang

Mereka bergegas menolong teman saya yang terjatuh tersebut. Mereka tampak panik dan memberikan pertolongan pertama pada teman saya yang cidera.

o meja mahasiswa Eropa

Mereka juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan mahasiswa dari Jepang. Namun bedanya, salah satu dari mereka membuat pengemuman pada secarik kertas yang berisi, Caution, snow on the floor!

Begitulah sahabat, kejadian yang sama namun tanggapan dan perlakuan berbeda. Sekarang saya ingin menyeru kepada kita genarasi muda, Change your habit to be a better Nation!

Konsekuensi logis jika kita mau bangsa Indonesia ini berubah, maka harus dimulai dari detik ini. Jika tidak, mau sudah bisa diprediksi Indonesia tidak akan mengalami progress yang signifikan. Sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an (surat Ar-Ra’du/13:11)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Salam Perubahan!

Mahfud Achyar

Universitas Padjadjaran Bandung

eramuslim.com

Ingin Sehat? Tirulah Cara Nabi Muhammad SAW

MODERNISASI memang memberikan banyak kemudahan dalam urusan kehidupan manusia. Semua menjadi serba lebih cepat, lebih praktis, dan tentu lebih efisien. Tetapi modernisasi tetap bukan sesuatu yang tanpa kelemahan.

Modernisasi dalam beberapa hal justru telah membuat kewalahan, lebih tepatnya tidak mampu menangani masalah yang lebih esensial. Di antaranya masalah kesehatan, baik itu kesehatan jasmani ataupun kesehatan ruhani.

Walaupun teori kesehatan kian berkembang dan terus berusaha menemukan solusi agar penyakit jauh dari kehidupan manusia, faktanya kian hari orang kian mudah terkena penyakit. Bukan sekedar penyakit jasmani tetapi ruhani sekaligus.

Lihat saja di sekitar kita, setiap hari selalu saja ada orang yang mengeluh kena sariawan, perut kembung, sesak nafas, pinggang encok, dan lain sebagainya. Bahkan penyakit yang dulu hanya diderita orang-orang tertentu; kencing manis, ginjal, sakit jantung, keracunan makanan, kini sudah mengakrabi hampir seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai usia.

Artinya semakin modern, ternyata masalah juga tidak sedikit. Penyakit kian banyak dan kian ganas menyerang siapa saja.

Atas fakta ini, seorang ilmuwan kontemporer, Fritjof Capra mengaku heran dengan era sekarang ini (modernisasi).

Melalui bukunya, “Titik Balik Peradaban” ia mengemukakan, dunia sekarang ini sungguh sangat aneh, para ahli yang seharusnya mahir dan memahami bidang kajian mereka justru sekarang juga tidak lagi mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang muncul dalam bidang yang menjadi perhatian mereka.

Ekonom gagal memahami inflasi; onkolog sama sekali bingung tentang penyebab-penyebab kanker; psikiater dikacaukan oleh schizophrenia; demikian juga polisi tidak berdaya menghadapi kejahatan yang terus meningkat.

Khusus problem kesehatan, lebih jauh Capra menuliskan bahwa manusia modern terancam oleh polusi air dan makanan. Kedua jenis konsumsi manusia ini telah tercemar oleh berbagai macam bahan kimia beracun.

Menurutnya, di Amerika Serikat, bahan-bahan tambahan makanan sintetis, pestisida, plastik, dan bahan-bahan kimia yang beredar di pasar-pasar diperkirakan mencapai seribu macam senyawa kimia baru setiap tahunnya. Artinya racun kimia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia.

Jadi, tidak mengherankan, mengapa orang di era modern ini cukup rentan terserang penyakit. Tidak saja mereka yang sudah tua, yang muda pun dalam situasi siaga bahkan anak-anak pun terbilang harus ekstra dijaga.

Penyakit mengancam tiap saat

Mengapa penyakit menjadi begitu dekat dengan manusia dan mengancam setiap saat?

Ada banyak faktor yang memicu terjadinya hal tersebut. Mulai dari cara pandang pragmatis para pengusaha makanan, pola hidup serba instan di masyarakat, sampai pada tahap dimana orang sudah mulai kurang peduli dengan syari’at agama dalam hal makanan.

Baru-baru ini (11/08/2011) Pusat Data Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PDPERSI) melaporkan bahwa, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis, sebanyak 1.416 item makanan olahan yang beredar di pasaran tidak memenuhi persyaratan. Ironisnya, total produk tersebut mencapai sekitar 73.293 kemasan.

Dari sisi pola makan, masyarakat juga sudah banyak yang menerapkan pola makan tidak sehat. Seperti makan tanpa diawali dan diakhiri dengan doa, bahkan sambil berjalan, selain itu juga masih banyak yang tidak membiasakan cuci tangan.

Dunia medis modern mengatakan bahwa, cara makan yang baik ialah dengan cara duduk dan tenang. Hal itu memungkinkan tubuh mengarahkan energi menuju proses makanan yang sedang dicerna. Enzim pencernaan juga akan bekerja dalam kondisi menyenangkan.

Untuk lebih sempurnanya proses pencernaan, hendaklah disisihkan waktu setidaknya sepuluh menit untuk makan dalam suasana rileks. Sambil kita terus-menerus memperbanyak dzikir, betapa nikmat Allah begitu besar pada diri kita. Ditinjau dari sisi adab, makan dengan cara duduk dan tidak terburu-buru menunjukkan satu akhlak yang baik.

Padahal Rasulullah saw telah memberikan contoh 14 abad lalu, sebelum dunia kedokteran merilis bahwa makan harus duduk, tenang dan tidak terburu-buru. Islam bahkan mengajarkan untuk memulakan dengan do’a. Demikian pula dalam hal kebersihan.

Makan Ala Nabi SAW

Untuk menjaga kesehatan atau terhindar dari penyakit, makanan memang faktor paling kasat mata yang harus diperhatikan. Namun yang sangat menentukan selain jenis makanan itu sendiri, cara makan pun sangat perlu untuk diperhatikan.

Oleh karena itu nabi pun punya tips bagaimana kegiatan makan yang merupakan kebutuhan pokok manusia itu betul-betul optimal mendatangkan kesehatan dan tidak mendatangkan dampak negatif.

Pertama, pastikan makanan yang didapatkan adalah halal dan baik serta tidak mengandung unsur-unsur yang haram.

وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ حَلاَلاً طَيِّباً وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِيَ أَنتُم بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS: Al Maidah: 88).

Jangan lupa untuk selalu meniatkan makan dan minum untuk menguatkan badan, agar dapat melakukan ibadah, dan hal-hal lain yang berguna agar dapat menjadi insan yang muttaqin.

Kedua, makan sesudah lapar dan berhenti sebelum kenyang. “Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan).” (Muttafaq Alaih).

Dunia modern dikejutkan dengan satu ‘penyakit’ baru, yakni obesitas. Kelebihan berat badan jika dibiarkan akan mengundang lebih banyak penyakit. Dan, obesitas ini tentu mulanya walaupun tidak semua, sering bermula dari kebiasaan makan secara berlebihan. Oleh karena itu makanlah secukupnya dan jangan berlebihan.

Ketiga, mencuci kedua tangan sebelum makan, jika dalam keadaan kotor atau ketika belum yakin dengan kebersihannya. “Apabila Rasululllah Sholallahu Alaihi Wassalam hendak tidur sedangkan Beliau dalam keadaan junub, maka beliau berwudhu terlebih dahulu dan apabila hendak makan, beliau mencuci kedua tangannya terlebih dahulu.” (HR. Ahmad)

Sehat Ala Nabi SAW

Dalam pandangan Islam, kesehatan bukan saja jasmani, tetapi juga ruhani. Untuk apa sehat badan kalau imannya kropos? Tentu sangat baik jika badan kuat iman juga sehat.

Makanan bukan satu-satunya penyebab munculnya berbagai macam penyakit. Meskipun umumnya beragam penyakit jasmani banyak ditimbulkan oleh makanan.

Satu hal yang tidak kalah penting terbukti efektif dalam meminimalisir mudahnya penyakit menyerang kita adalah keyakinan dan kemauan yang kuat untuk menerapkan syariat agama yang telah dicontohkan oleh nabi kita.

Meskipun kita telah mengonsumsi makanan penuh gizi, olahraga teratur, tetapi mental kita bermasalah, sering marah, suka ngomel, dan paling senang mendengki orang lain. Dapat dipastikan kita akan jauh dari kehidupan yang bahagia, sehingga rentan terhadap berbagai macam penyakit (biasanya darah tinggi), utamanya penyakit ruhani yang pada akhirnya akan berdampak signifikan terhadap kesehatan jasmani.

Islam sebagai ajaran yang bersifat tauhidi, tidak pernah memberatkan satu aspek lalu mengabaikan aspek yang lain. Seorang dikatakan sehat dalam perspektif Islam tidak semata bugar raganya, namun juga prima imannya, baik perangainya dan mulia akhlaknya.

Bagaimana agar kita bisa sehat jiwa raga? Berikut langkah-langkahnya;

Pertama, bangun sebelum shubuh atau dini hari untuk qiyamul lail. Bagi anda yang pelajar/mahasiswa anda bisa menulis di waktu yang hening itu. Lebih afdhal juga jika anda bangun sholat dan berdoa. Sebab doa pada waktu malam kemungkinan terkabulkannya cukup besar. Dan, lakukanlah sholat Shubuh secara berjama’ah di masjid.

Jika rumah anda terbilang agak jauh dari masjid, kondisi tersebut sungguh sangat menguntungkan. Anda bisa jalan kaki ke masjid. Jadi, selain mendapat pahala yang jauh lebih besar, anda juga bisa sekaligus berolahraga sambil menikmati sejuknya udara di pagi hari.

Jika anda rutin melakukannya, jalan kaki akan menjadikan peredaran darah lebih teratur, dan darah akan sampai dalam jumlah yang besar ke pembuluh-pembuluh darah yang ada di seluruh tubuh, sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan banyak keletihan yang disebabkan oleh kurangnya suplai darah di seluruh sudut tubuh pada beberapa penyakit.

Kedua, sebisa mungkin jangan mudah emosi atau mudah marah. Rasullullah saw, memperingatkan kita, “Jangan marah, jangan marah, jangan marah.” Ini menunujukkan bahwa hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa.

Jika anda termasuk tipe orang yang suka marah, atau mudah terpancing emosi lalu marah, Rasulullah saw memberikan tips berikut ini;

1. Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring
2. Membaca ta ‘awwudz, karena marah itu dari syaithan
3. Segeralah berwudhu dan lakukanlah sholat dua rakaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati

Ketiga, jangan mendengki saudara Muslim yang lainnya. Gembira jika saudaranya tertimpa musibah dan bersedih jika suadaranya mendapat berkah merupakan sikap yang tercela dan bisa menghanguskan pahala kebaikan kita sendiri.

“Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR. Abu Dawud)

Keempat, senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kesehatan. Rasulullah saw berwasiat kepada kita, “Mohonlah kepada Allah keselamatan dan afiat. Sesungguhnya tiada sesuatu pemberian Allah sesudah keyakinan (iman) lebih baik dari pada sehat afiat.” (HR Ibnu Majah).

Kelima, perbanyaklah puasa.

Suatu kali, penulis bertemu dengan seorang pengurus masjid di kawasan Grogol Jakarta Barat. Usianya sudah lebih dari 70 tahun, tetapi fisiknya masih kuat. Dia mampu membersihkan masjid dan naik turun tangga setiap hari.

Tatkala ditanya, apa rahasianya, jawabannya cukup singkat, “Kosongkan perutmu dua kali seminggu dan perbanyaklah minum air disertai doa. Mesin saja kalau tidak diservice bisa rusak,” begitu jawabnya sederhana. Subhanallah.

Benar, puasa dan doa adalah salah satu cara menservice fisik manusia supaya tetap bugar. Nabi pernah berpesan, dalam amalan puasa, terkandung banyak manfaat kesehatan. ”Puasalah kamu niscaya kamu akan sehat selalu.”

Dengan memperhatikan dan berupaya menerapkan cara hidup nabi dalam kesehariannya, Insya Allah bukan saja fisik kita akan sehat, jiwa kita pun akan selalu terawat.

Jadi, mari kita mulai meneladani hidup nabi sekarang juga. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi

hidayatullah.com

%d bloggers like this: