Posts from the ‘SEPUTAR ISLAM’ Category

Tsaqafah: Peran al-Qur’an dalam Pengislamisasian Bahasa Arab

Tanpa disadari, bahasa Arab (bahasa al-Qur’an) banyak digunakan dalam aktivitas kita sehari-hari. Pengaruhnya disebabkan oleh meresapnya bahasa ini ke dalam jiwa kita dan umat Islam

gal470260779

Oleh: Rahmat Hidayat Zakaria

MASYARAKAT Arab secara natural mempunyai kemampuan tinggi dalam bidang sastra—terutama puisi. Bakat ini telah diwarisi oleh nenek moyang mereka semenjak ratusan tahun sebelum datangnya Islam. Kualitas sastra yang mereka gunakan sangat tinggi dan mendalam, sehingga mampu membuat orang terpesona akan keindahan gaya bahasanya.

Dalam suasana masyarakat Arab yang begitu terkenal dengan bahasa dan sastranya, Allah menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad sebagai dasar ajaran dan syari‘at untuk makhluk seluruh alam. Al-Qur’an diturunkan berbahasa Arab dan mempunyai kekuatan serta keindahan bahasa dan sastra sehingga ia mampu melampaui kehebatan bahasa dan sastra Arab ketika itu. Inilah yang membuat Prof al-Attas semakin menguatkan, bahwa bahasa Arab telah dibebaskan melalui proses Islamisasi. Bahkan, beberapa leksikologis dari Orientalis Barat berasumsi, bahwa pada saat al-Qur’an diwahyukan di tanah Arab, bahasa Arab akhirnya mengalami proses perubahan yang sangat drastis. (al-Attas, The Concept of Education in Islam, 1999, 8-9).

Islamisasi bahasa telah dilakukan ketika pertama kali al-Qur’an diwahyukan. Islamisasi tersebut akhirnya mempengaruhi Islamisasi pemikiran dan akal. Islamisasi bahasa Arab dengan tuntunan Allah dan wahyu, telah mengubah kedudukan bahasa Arab menjadi satu-satunya bahasa yang masih hidup di antara bahasa-bahasa manusia. Ia telah menjadikan bahasa Arab terpelihara dari perubahan serta tetap hidup dan kekal sebagai bahasa yang baku. Setiap makna dari perkataan-perkataan tersebut ditentukan oleh perbendaharaan kata semantik dari al-Qur’an, dan bukan ditentukan oleh perubahan sosial (Islam and Secularism, 46).

Bahasa Arab yang dipilih Allah Subhanahu Wata’ala sebagai bahasa wahyu tentunya mempunyai kekuatan dan keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lain.

Kenapa Al-Qur’an diturunkan berbahasa Arab? Karena Nabi Muhammad adalah berbangsa Arab dan berbicaranya pun dalam bahasa Arab.

Ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala; “Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam. Ia dibawa turun oleh malaikat Jibril ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi perigatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS: al-Syu‘ara’ [26]: 192-195).

Sementara di ayat yang lain diegaskan, “Sesungguhnya kami (Allah) menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.” (QS: al-Zukhruf [43]: 3). Begitu juga dengan surat Fuṣṣilat, Allah menyatakan, “Dan jikalau kami jadikan al-Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selalin Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” apakah (patut al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang (rasūl adalah orang Arab)? Katakanlah: “al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.” (QS: Fushshilat [41]: 44).

Peran al-Qur’an dalam Pengislamisasian Bahasa Arab

Berikut ini akan dijelaskan beberapa peran al-Qur’an dalam mengislamisasi bahasa Arab:

Pertama, menambah perbendaharaan kata Arab. Seperti kata munafiq. Sebelum kedatangan Islam, kata tersebut belum dikenal. Tetapi setelah Islam datang, munafiq mempunyai definisi tersendiri , yaitu orang yang mengaku Islam tetapi hatinya tetap kafir kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Kedua, memperluas pengertian beberapa perkataan Arab. Pada zaman jahiliyah, banyak kata-kata yang kemudian diubah maknanya oleh Islam. Seperti kata mu’min yang berarti aman, muslim berarti tunduk, dan shalat yang berarti doa. Setelah Islam datang, kata-kata tersebut tidak lagi menunjukkan pengertiannya dari segi bahasa. Mu’min menjadi orang yang percaya kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan semua perkara-perkara yang wajib dipercayai, Muslim telah menjadi orang yang tunduk atau taat kepada perintah Allah Subhanahu Wata’ala (menunaikan segala perintahNya dan menjauhi segala yang dilarangNya), serta shalat menjadi ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dimulai dari takbiratul ihram dan ditutup dengan salam.

Ketiga, menyatukan pelbagai dialek kabilah (tribe) Arab.

Kaum Qudha‘ah mengubah huruf (ي) menjadi (ج). Seperti ungkapan penyair berikut ini:

خالي عويف وأبو علج المطعمان اللحم بالعشج

(Biarkanlah ‘Uwaif dan Abu Ali memberi makan daging di malam hari)

Kata (علج) sebenarnya (علي), demikian juga (بالعشج ) maksudnya (بالعشي).

Kaum Himyar mengubah ‘al’ al-Ma‘rifah menjadi (أم) di awal perkataan, seperti kalimat berikut: من أمبر أمصيام فى أمسفر

Sebenarnya yang dimaksud dari rangkaian kalimat di atas adalahهل من البر الصيام فى السفر
(Apakah puasa ketika sedang safar merupakan suatu kebaikan?)

Dan yang terakhir adalah kabilah Hudai, mereka mengubah huruf (ح) menjadi (ع). Seperti ucapan mereka: أعل الله العلال . Padahal sebenarnya yang mereka maksud adalah أحل الله الحلال (Allah telah menghalalkan yang halal).

Ucapan-ucapan mereka terkadang jarang didengar dan menyusahkan lidah ketika mengucapkannya. Namun, perkataan tersebut sedikit demi sedikit hilang seiring dengan datangnya Islam dan ditukar dengan bahasa dan penyebutan yang mudah sebagaimana terdapat di dalam al-Qur’an.

Keempat, al-Qur’an membantu penyebaran bahasa Arab ke seluruh dunia (khususnya negara-negara Islam). Tanpa disadari, bahasa Arab (bahasa al-Qur’an) banyak digunakan dalam aktivitas kita sehari-hari.

Pengaruhnya disebabkan oleh meresapnya bahasa ini ke dalam jiwa kita dan umat Islam, seolah-olah bahasa ini menjadi bagian dari bahasa kita sendiri. Seperti kata yakin, ilmu, beriman, bertaqwa, adil, adab, haq, batil, musyawarah, wakil, hikmah, faham, fikir, syair, ibarat, kursi, sultan, garis khatulistiwa, aman, nama-nama hari dalam seminggu dan seterusnya. (lihat ed. Mohd Radzi Othman dkk, Warisan al-Qur’an: Sosiobudaya, 2009,110-15).

Demikianlah peran al-Qur’an ketika mengislamkan bahasa Arab. Allah Subhanahu Wata’ala telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an disebabkan bahasa tersebut adalah bahasa saintifik.

Itulah yang membuat bahasa al-Qur’an pun sangat dikagumi. Melalui proses islamisasi terhadap bahasa Arab, worldview masyarakat pun akhirnya berubah menjadi Islam. Semua itu berangkat dari peran Al-Qur’an dalam pengislamisasian Bahasa Arab. Wallāhu a‘lam bishshawab.*

*Penulis adalah Mahasiswa Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation, Universiti Teknologi Malaysia (CASIS-UTM)

Baca juga: Bahasa Antara Islamisasi dan Sekularisasi

http://www.hidayatullah.com

Problematika Ummat Islam Dan Rekonstruksi Kebangkitannya (4)

Oleh: Sunmanjaya Rukmandis

Markaz al-‘Alami al-Wasathiyah, kuwait (ilustrasi)

III. Merekonstruksi Potensi Kebangkitan Umat

Melihat problematika dan sikap negatif yang ada dapat membuat kita tercenung, merenung seorang diri. Namun, sikap pasrah dan bertopang dagu tidaklah mungkin dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Malah mengkristalkan permasalahan dan mengundang masalah-masalah berikutnya.

Upaya-upaya multi-approach dalam mendiagnosa dan menganalisa permasalahan tersebut beserta latar belakangnya tidak boleh melupakan dimensi Rabbaaniyyah (theosentris), Nabawiyyah (profetis), dan Insaaniyyah (humanitis).

Perlu disadari bersama bahwa, merekonstruksi kebangkitan umat adalah sebuah ibarat lahan wilayah yang sangat luas, dalam waktu yang bersamaan belum ada kejelasan status kavling dan pemegang otoritasnya, kecuali umat islam itu sendiri yang wajib menyadarinya laksana terhadap barangnya yang teramat berharga yang pernah hilang yang kemudian ditemukannya kembali.

Antara lain, tersebab hal itu pulalah maka kerja kolosal dan mondeal, yang bukan saja menguras potensi, material dan immaterial, bahkan juga melibatkan pelbagai mata rantai generasi secara turun-temurun, berkesinambungan, dan keterpaduan yang konstan dan konsisten. Oleh sebab itu setiap Muslim diharapkan tidak marginal apalagi periferal menjadi alienasi mengucil. Seluruhnya diharapkan all-out dan berjibaku dalam sebuah adagium: “hidup dalam keadaan mulia dan mati dalam syahid”.

Guna menyahuti sejumlah aspirasi di atas, berikut ini disajikan sebuah akomodasi alternatif yang sangat terbuka atas segala masukan konstruktif-obyektif, sebagai ikhtiar mencapai kesatuan visi dan persepsi dalam menanganinya. Tawaran termaksud di antaranya:

1. Penyucian jiwa,
2. Pembangunan pemikiran,
3. Penyadaran Ideologis,
4. Penguasaan medan,
5. Pengguliran strategi dan taktik,
6. Penataan soliditas,
7. Pendayagunaan potensi.

1. Penyucian jiwa

Tidak ada ruhbaniyyah (santo, orang suci, kerahiban) dalam Islam, karena setiap manusia disertai lupa dan salah, sehingga ia tidak dibenarkan menganggap dirinya suci (QS an-Najm: 32). Dalam kaitannya dengan hal ini, Allah swt membuka pintu taubat untuk dosa apapun tanpa terkecuali musyrik (QS Faathir: 39), selama dosa tersebut bukan kepada manusia, yakni hanya kepada-Nya.

Program tathahhur dan tazkiyatun nafs (QS at-Taubah: 108) adalah upaya penyediaan personel untuk disiapkan agar menerima pembinaan dan penataan berikutnya (QS al-Baqarah: 222 dan 247).

2. Pembangunan Pemikiran

Ruh yang suci dan jiwa yang bersih adalah modal dasar yang siap tatar. Pembinaan pada aspek iman dan aqidah, syari’ah dan ibadah, serta akhlak, dan syakhshiyyah. Begitu juga hal-hal yang berkenaan dengan fikrah dan manhaj.

Pembinaan yang menyeluruh, termenej, terarah, terpadu dan berkesinambungan kelak menjamin ke arah ashalah fikriyyah, yang sangat mungkin menjamin immunitas yang tidak akan terkontaminasi oleh fikrah munharifah. Lebih jauh Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi menegaskan esensi dan urgensi kesatuan fikrah.

3. Penyadaran Ideologis

Kristalisasi pemikiran dan keyakinan akan membentuk ideologi. Bila pemikiran dan keyakinannya tertata, terpola, dan terbina secara Islami, niscaya akan menghasilkan ideologi Islami pula. Sebagai ajaran yang universal (QS al-Anbiya: 107) dan komprehensif, Islam tidak hanya menitik-beratkan pada aspek kultural, karena Islam memiliki spektrum yang meliputi seluruh aspek kehidupan umat manusia, termasuk Ideologi.

Dengan demikian, kerangka ideologi akan melahirkan metodologi yang membimbing ke arah penyusunan konsep-konsep strategis dan panduan-panduan teknis-taktis, dalam upaya menyongsong dan mempersiapkan kebangkitan umat.

4. Penguasaan Medan

Setiap pribadi Muslim adalah elemen dari rangkaian lokomotif dan gerbong kebangkitan umat. Oleh karena itu setiap personel harus memiliki pengetahuan menyeluruh mengenai ruang-lingkup tugas dan peta wilayah kerjanya.

Penguasaan medan juga meliputi penguasaan informasi dan komunikasi, data dan fakta, yang selalu akurat, aktual, dan siap pakai atas segala kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, yang dapat dijadikan sebagai modal untuk pengambilan keputusan berikutnya. Selain itu, setiap personel dalam melihat personel lainnya dengan penuh tatapan ukhuwwah, sehingga dalam pengembanan amanah dan jalinan kerja antarpersonel akan tampak dan lebih terasa bobot kerja samanya.

Melalui dirasah dan takhtith (studi, perencanaan, dan pengembangan) para aktivis merancang dan menetapkan titik-titik pusat peubah (marakizut taghyir) yang sekaligus merajut mata rantainya dan tata hubungannya. Sehingga medan pusat (ummul quraa, secara geografis dan demografis) dan daerah sekitarnya (buffer-zone) tertangani penuh dan dominan (ma’rifah dan saitharah).

5. Pengguliran Strategi dan Taktik

Pada fase ini, dimulai dengan langkah-langkah memperkenalkan dan mensosialisasi program-program strategis berikut langkah teknik dan taktiknya. Dalam hal ini diperlukan pemilihan personel tertentu berdasarkan kriteria yang disepakati.

Selanjutnya kepada mereka disosialisasi garis-garis besar program strategis secara terencana, terprogram, terarah, dan terpadu dengan termin waktu yang berkala. Di samping itu, pada waktu-waktu tertentu dilakukan simulasi dan uji coba, guna menyiapkan dan mengukur kelayakan potensi dan kesigapannya.

Dalam hal ini tentu saja tidak berarti menjual informasi atau strategi yang memang wajib dirahasiakan, melainkan lebih kepada prioritas sosialisasi konsep-konsep umum yang memang harus dimasyarakatkan, guna menyiapkan dan meningkatkan mutu kecerdasan dan kepedulian bangsa (QS al-Kahfi: 19-20).

6. Penataan Soliditas

Betapapun kekuatan potensi yang dimiliki, akan sangat mudah diintervensi bahkan dihancurkan jika tidak disertai dengan penataan, pengorganisasian, dan pengadministrasian serta kekuatan intelijen yang baik. Oleh sebab itu, pembinaan kader-kader yang dirancang sebagai motivator, dinamisator, dan stabilisator harus selalu dalam kontrol, siaga, dan konsolidasi dengan kefahaman koordinasi dan mobilitas prima.

Penataan soliditas tidak mudah diukur dengan rentang waktu tertentu. Di dalam sejarah kita dapat mengambil ibrah yang cukup mahal dan amat
berarti. Misalnya, Ashaabul Kahfi dan Daarul Arqam pada masa kehidupan Rasulullah saw. Mereka adalah kader-kader militan, solid, siaga, dan siap pakai.

7. Pendayagunaan Potensi

Setiap pribadi Muslim adalah potensi pertama dan utama untuk melaksanakan proyek-proyek ‘izzul Islaam wal Muslimiin. Kendatipun demikian, tetap harus diadakan multi level rekruitmen kader-kader ujung tombak yang akan memimpin umat dalam skala organisasional, administratif, manajemen, dan operasional.

Dalam hal rekruitmen ini sebisa mungkin diusahakan agar dapat dengan jitu memilih benih-benih tersebut sesuai dengan standarisasi dan kriterianya. Selain itu, pun telah tersediakan paket-paket pembinaan dan pelatihan, baik yang berkenaan program pembinaan ‘aqliyah, ruhiyah, dan ma’nawiyah; kepemimpinan dan keterampilan; fisik dan kemiliteran; serta hal-hal penting dan urgen lainnya.

Seumpama belum tiba saatnya untuk mendayagunakan potensi, baik matrerial maupun personel, janganlah memaksakan. Sekiranya hal ini dilakukan, diniscayakan hanya akan menghasilkan sebuah prematur dan pembinasaan diri. Sebaliknya, jika sudah saatnya maka tunaikanlah. Ketepatan waktu, partisipasi dan mobilisasi, insya Allah dalam naungan dan pembelaan-Nya, seraya menggapai kemenangan (QS Muhammad: 7).

Penataan potensi individu dapat menghindarkan terjadi asas figuritas dan senioritas. Kesenioran dan keyunioran eksistensial diakui dan dihormati, tetapi bukan sebagai doktrin. Ketokohan figur real diakui dan dihormati, tetapi bukan sebagai yudisial. Dengan demikian, yang tampil adalah konfigurasi ideal, harmonis dan realistik.

IV. Penutup

Pada akhirnya umat ini harus meyakini bahwa, sangat tidak mungkin problematika dan kebangkitannya itu akan diurus oleh yang lain. Tidak ada alternatif, melainkan mereka harus bersatu, menyingsingkan lengan baju, berjuang optimal menyongsong fajar kebangkitan Islam dan Muslimin (QS as-Shaff: 14).

Kurang apa lagi? Potensi sumberdaya Nilai, yakni al-Qur’an, as-Sunnah, khazanah peradaban dan keilmuan, serta wibawa sejarah tinggal dijadikan bekal. Potensi sumberdaya Insani, secara jumlah dan mutu senantiasa meningkat sesuai dengan perkembangan zaman, sains dan teknologi. Mereka hidup, bermasyarakat, berasimilasi, berda’wah, berprestasi di banyak negara Barat, sehingga keberadaan dan kualitasnya diperhitungkan dunia. Begitu pula potensi sumberdaya Alami alhamdulillaah telah umat miliki, melimpahi persada. Kini, umat ini harus bertanggung jawab kepada sejarah dan masa depan.

Malaise al-Faruqi dan refleksi Dr. Sir Muhammad Iqbal hanyalah akan menjadi himpunan ratapan dan harapan. sedangkan umat tetap terpuruk pada kehinaan dan kejumudan. Wahai, diri beriman. Ternyata, Allah swt pun tidak akan mengubah status umat ini, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (QS al-Anfaal: 53; ar-Ra’d: 11). Kesempatan demi kesempatan berlalu tanpa kejelasan dan kemajuan. Tinggal lagi mereka berproklamasi; sekarang, atau tidak sama sekali!

Namun sebongkah keyakinan membersit di celah-celah palung kalbu; insya Allah, Optimistis dalam kebersertaan Allah swt. (QS Ali Imran: 139-140 dan 200). Cikal bakal itulah yang akan diberkati Allah swt sebagai kemunculan generasi dan momentum alternatif (QS at-Taubah: 19; al-Mujaadilah: 22) yang kelak kembali mendaulatkan ‘Izzul Islaam wal Muslimiin (QS al-An’am: 82; al-A’raaf: 96). Wallahu a’lam.

Sebelumnya : Problematika Ummat Islam dan Rekonstruksi Kebangkitannya (1) , (2) dan (3).


KEPUSTAKAAN
1. Abdul Qadir Abu Faris, Dr., Ujian, Cobaan, Fitnah dalam Da’wah (Terj.), Gema Insani Press, 1993.

2. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr.,Persaudaraan Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1405/1985.

3. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr., Membina Generasi Muda yang Ideal (Terj.), Karya Utama, Surabaya, TT.

4. Farid Ahmad Okbah/Drs. Hartono A. Jaiz, Solidaritas Islam Jalan Menuju Persatuan, Darul Haq, Jakarta, 1993.

5. Fathi Yakan, Komitmen Muslim kepada Harakah Islamiyyah (Terj.), Cetakan Ketiga, Najah Press, Jakarta, 1993/1413.

6. Isma’il Raji Alfaruqi, Prof. Dr., Islamisasi Pengetahuan (Terj.), Cet. I, Pustaka Salman ITB, Bandung, 1404/1984.

7. Muhammad Al Ghazaly, Syaikh, Dr., Keprihatinan Seorang Juru Da’wah (Terj.), Cetakan I, Mizan, Bandung, 1914/1984.

8. Sa’id Hawwa, Syaikh, Al Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1409/1988.

9. M. Isa Anshary, KH, Mujahid Da’wah, Cetakan II, CV. Diponegoro, Bandung, 1979.

10. M. Natsir, Dr., Fiqhud Da’wah, Cetakan Keempat, Media Da’wah, Jakarta, 1403/1983.

11. Sayyid Qutb, Dr., Fiqh Da’wah (Terj.), Cetakan Pertama, Pustaka Amani, Jakarta, 1986.

12. Umar Sulaiman Al-asyqar, Dr., Mengembalikan Citra dan Wibawa Umat (Terj.), Cet. I, Wacana Lazuardi Amanah, Jakarta, Shafar 1415/Juli 1994.

13. Yusuf Alqardlawi, Syaikh Prof. Dr., Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam (Terj.), Cet. I, Robbani Press, Jakarta, 1412/1991.

14. Zainal Abidin Ahmad, H.,Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1977.

15. Zainal Abidin Ahmad, H.,Dasar-dasar Ekonomi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1979.


* Penulis adalah Staf Pengajar IPB Bogor

sumber: ISHLAH, Edisi 82 Tahun IV, September 1997.

Kesempurnaan Islam


Ka’bah di Kota Mekkah sebagai Kiblat Umat Islam

Kita berbahagia dan bersyukur karena Allah menciptakan kita sebagai muslim. Artinya, kita mendapatkan jaminan dari Allah Swt untuk mendapatkan keselamatan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Keselamatan hidup di dunia dan di akhirat akan Allah berikan manakala kita memang benar-benar menjalankan syariat Allah Swt. Sesuai dengan nama Islam itu sendiri, inti dari keislaman kita adalah tunduk, berserah diri, menjalankan hukum-hukum Allah Swt. Dengan demikian, tidak ada satu pun yang mampu mengalahkan ketinggian Islam, Al Islam ya’luu walaa yu’laa alaihi.

Kita sebagai umat Islam harus meyakini bahwa Islam adalah agama yang syamil. Agama yang di dalamnya terdapat kesempurnaan. Ketika kita memproklamasikan diri sebagai muslim, kita harus berupaya sepenuh jiwa dan raga untuk melaksanakannya dengan menyeluruh, tidak setengah-setengah (juz’iyah). Seorang muslim tidak boleh mengambil sebagaian dan menolak sebagian. Pemahaman seperti itu adalah pemahaman yang keliru. Hal ini bisa kita baca dalam Q.S. 2 : 208 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya,”Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Kesempurnaan yang tercipta dalam Islam adalah kesempurnaan dalam:
1. Waktu
2. Minhaj
3. Tempat

1. Kesempurnaan dalam waktu

Islam dibawa oleh para nabi kita, dari nabi Adam hingga nabi Muhammad Saw. Risalah yang dibawa adalah risalah yang sama, risalah yang satu yaitu Islam. Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

[21:107] “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Islam yang dibawa para nabi secara umum dirisalahkan kepada kaumnya. Misalnya Nabi Nuh membawa risalah Islam untuk kaum tsamud, nabi Luth untuk kaum Sodom, dan sebagainya. Sementara itu, Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi menyempurnakan tersebarnya Islam dan dirisalahkan untuk seluruh umat manusia di muka bumi ini dari dulu hingga kiamat tiba.

Allah berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

[33:40] “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

2. Kesempurnaan minhaj

Islam itu ibarat sebuah bangunan. Bagian yang satu melengkapi bangunan yang lain hingga menjadi sebuah bangunan yang kokoh.

Asas dari Islam adalah akidah yang kuat. Hal ini erat hubungannya dengan rukun iman. Oleh karena itu, seorang muslim yang kaffah adalah yang menempatkan akidah sebagai asasnya. Dengan kata lain, profil pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang muslim adalah salimul aqidah, yakni akidah yang selamat. Sehebat apa pun ia beramal dalam kehidupan sehari-hari, tanpa akidah yang selamat, amal yang dilakukannya menjadi sia-sia.

Bangunan Islam adalah ibadah. Yakni, rukun Islam. Kita menjadi muslim saat kita membuat bangunan ini. Kita shalat dengan shalat yang benar, yaitu mendirikan shalat bukan hanya menjalankan shalat. Kita saum dengan hanya mengharap rida Allah, kita berzakat, berhaji. Selain ibadah, bangunan islam yang kedua adalah akhlak. Artinya, beribadah kepada Allah tidaklah cukup. Seorang muslim pun harus mempunyai akhlak yang baik dan mulia, baik kepada Allah Swt, manusia, dan juga kepada alam yang telah Allah ciptakan untuk kehidupan kita di muka bumi ini.

Penyokong atau penguat dalam kesempurnaan minhaj ini adalah jihad dan dakwah (amar makruf nahi munkar). Ayat-ayat Allah yang berkenaan dengan jihada dan dakwah adalah sebagai berikut:

Q.S. 29 : 6
وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

[29:6] “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”

Q.S. 29 : 31

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

[29:69] “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”

Q.S. 16 : 125

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

[16:125] “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

3. Sempurna dalam tempat

Islam hanya mempunyai satu pencipta, yaitu Allah Swt. Allahlah yang menciptakan alam beserta isinya. Segenap makhluk yang berada di muka bumi ini baik yang tampak maupun tidak tampak sudah seharusnya menyerahkan dirinya kepada Allah Swt. Kasih sayang Allah lah yang menyebabkan kita sebagai muslim. Dan sudah tentu, manakala kita benar-benar menjalankan Islam, kita akan mendapatkan keberuntungan yang nyata, yakni bahagia di dunia dan akhirat.

Allah berfirman,

وَإِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

[2:163] “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

[2:164] “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Semoga Allah Swt menetapkan kita sebagai pribadi muslim yang benar-benar istiqomah menjalankan keislamannya. Hanya umat yang taatlah yang akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu ‘alam bishawab.

http://albayan.or.id

Kalender Ummul Quro Arab Saudi : Wukuf 5 November dan Idul Adha 6 November 2011


Ummul Quro: Foto Nurul Hidayati

Madinah – Puncak haji yang ditandai dengan wukuf di Arafah, diperkirakan jatuh Sabtu, 5 November 2011 (9 Dzulhijjah 1432 H). Idul Adha jatuh esok harinya yakni Minggu, 6 November. Hal ini berdasarkan kalender ummul quro Arab Saudi.

Hingga Selasa (24/10/2011), belum ada perubahan terhadap kalender tersebut. Pemerintah Indonesia menjadikan kalender itu sebagai dasar perjalanan haji 1432 H terkait dengan operasi pemberangkatan, masa tinggal dan pemulangan jamaah haji.

“Wukuf di Arafah diperkirakan hari Sabtu. Kalau berubah menjadi hari Jumat (4 November), maka akan menjadi haji akbar. Bila haji akbar, akan repot. Karena orang Arab yang tidak berniat haji akan keluar semua untuk berhaji,” tutur Kasatop Armina Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) 1432 H, Letkol Abu Haris, saat memberikan pengarahan tentang kondisi Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina) di masa puncak haji, di Daker Madinah dalam suatu kesempatan.

Sementara itu, sejumlah ormas maupun ahli astronomi juga telah mengumumkan periode datangnya Idul Adha. Ahli meteorologi Kuwait, Adel al-Saadoun seperti dilansir kantor berita KUNA, menyebutkan tanggal 1 Dzulhijjah jatuh 28 Oktober, wukuf jatuh 5 November, dan Idul Adha 6 November.

Di Tanah Air, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah merilis perhitungan Idul Adha. Berdasarkan hitungan yang dilakukan Muhammadiyah, 10 Dzulhijjah atau hari raya Idul Adha akan jatuh hari Minggu Pon tanggal 6 November 2011 sama dengan ummul quro di Arab Saudi.

“Hari Arafah (9 Dzulhijjah 1432) jatuh pada hari Sabtu Pahing 5 November 2011. Idul Adha (10 Dzulhijjah 1432) jatuh pada hari Minggu Pon tanggal 6 November 2011,” ujar Ketua Majelis Tarjih dan Tardid Muhammadiyah Syamsul Anwar dalam rilisnya kepada detikcom.

detiknews.com

10 Keutamaan Puasa Ramadhan

Oleh: Ali Akbar bin Agil

ADALAH Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki adalah salah seorang ulama kenamaan dari Timur Tengah, khususnya di Arab Saudi. Karisma besarnya tidak hanya berhenti di sana tapi sudah masuk ke Asia, lebih-lebih di tanah air. Murid-muridnya bertebaran di perbagai penjuru nusantara, meramaikan lalu-lintas dakwah dengan ilmu-ilmu yang berkualitas. Di Malang sederet ulama terkemuka lahir dari tangan dinginnya, di antaranya Ustadz Shaleh Al Aydarus, Ustadz Muhammad bin Idrus Al Haddad, Ustadz Husain Abdullah Abdun, dan masih banyak lagi.

Di musim haji, biasanya kediaman Abuya, begitu beliau dipanggil ramai dikunjungi oleh para jamaah haji guna bertamu. Tak jarang beliau memberi uang dan kitab-kitab sebagai oleh-oleh untuk mereka. Kedekatannya dengan ulama tanah air merupakan warisan ayahnya, Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki yang pada masa hidupnya aktif mengajar para santri dari Indonesia. KH. Hasyim Asyari salah satunya.

Tidak berlebihan kiranya bila beliau dinobatkan sebagai guru besar di bidang hadits oleh Universiats Ummul Qura di usia 26 tahun, setelah sebelumnya menggondol gelar doktor (PhD) di Universitas Al-Azhar.

Kedalaman ilmunya memang sudah tidak terbantahkan. Ilmu Hadits dan Sirah (sejarah) adalah dua ilmu yang sangat dikuasai olehnya. Dari tangannya lahir sejumlah karya brilian yang banyak diajarkan, dikutip oleh para dai, khatib, dan diteliti oleh para ahli, mulai santri hingga mahasiswa. Karya-karya Abuya yang ditinggalkan sebagai warisan intelektual untuk umat sangat banyak, antara lain Mafâhîm Yajibu an Tushahhah, Abwâbul Faraj, Al Manhalul Latîf, Khasâisul Ummatil Muhammadiyah, Al Qawâid Al Asasiyyah fi Ulûmil Qur`ân, Wahuwa fil Ufuqil A`lâ, Târîkhul Hawâdits an Nabawiyyah, Syarhu Mandzûmatil Waraqât, Qul Hâdzihi Sabilî.

Abuya mendapat perhatian yang besar dari umat Islam karena kejeliannya menangkap beberapa keutamaan-keutamaan umat Nabi Muhammad dibanding umat-umat terdahulu. Usahanya menguak kemuliaan orang-orang yang berpuasa dari umat Muhammad terlihat nyata dalam pembahasan pada salah satu kitabnya yang terkenal, Khasâisul Ummatil Muhammadiyah. Beliau mencoba membuat ringkasan rapi tentang puasa bertitik tolak dari al-Qur’an dan As Sunnah.

Abuya menorehkan sepuluh keutamaan orang-orang yang berpuasa yang ada pada umat ini.

Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan. Pintu surga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa. Kata Nabi dalam satu haditsnya, “Pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya.” (HR. Ahmad dan Bukhari-Muslim)

Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad saw sebagai benteng yang kokoh dari siksa api neraka, sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasul bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi).

Rasul menambahkan pula bahwa puasa yang berfungsi sebagai perisai itu layaknya perisai dalam kancah peperangan selama tidak dinodai oleh kedustaan dan pergunjingan. (HR. Ahmad, An Nasa`i, dan Ibnu Majah).

Ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada ahli puasa dengan menjadikan bau mulutnya ada nilainya. Sehingga Rasul bertutur demikian, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak di sisi Allah dari bau minyak misik.”

Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa, yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya meluapkan rasa syukurnya di mana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan dzikir.

Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan karena telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya. “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Yaitu berbahagia kala berbuka dan kala bertemu Allah.” (kata Rasul dalam hadits riwayat imam Muslim).

Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesehatan dan kesembuhan dari beragam penyakit. “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).

Abuya menegaskan bahwa rahasia kesehatan di balik ibadah puasa adalah bahwa puasa menempa tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan materi-materi kotor lainnya dari dalam tubuh.

Menurut kerangka berpikir Abuya, puasa ialah fasilitas kesehatan bagi seorang hamba guna meningkatkan kadar ketakwaan yang merupakan tujuan utama puasa itu sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 183).

Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada ahli puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari siksa api neraka. Matanya tak akan sampai melihat pawai arak-arakan neraka dalam bentuk apapun. Rasul yang mulia berkata demikian, “Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim, dan Nasa`i).

Ketujuh, dalam al-Qur’an Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At Taubah: 112).

Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahwa orang –orang yang melawat (As Saihuun) pada ayat tersebut adalah orang yang berpuasa sebab mereka melakukan lawatan (kunjungan) ke Allah. Makna lawatan, tegas Abuya, di sini adalah bahwa puasa merupakan penyebab mereka (orang yang berpuasa) bisa sampai kepada Allah. Lawatan ke Allah ditandai dengan meninggalkan seluruh kebiasaan yang selama ini dilakoni (makan, minum, mendatangi istri di siang hari) serta menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.

Sembari mengutip al-Qur’an pula, Abuya mencoba menganalisa surah Az Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tak terhitung banyaknya dari Dzat Yang Maha Pemberi, Allah swt.

Kedelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistemewaan dengan menjadikan segala aktivitas orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Karenanya, orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan tujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya juga ibadah. Dalam satu hadits riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, “Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipatgandakan (pahalanya).”

Tentu, tidak dimaksudkan bahwa puasa itu dipenuhi dengan tidur. Bahkan harus sebaliknya, jauh lebih keras.Hanya saja, nilai tidur orang berpuasa di hadapan Allah berbeda dengan tidurnya orang yang tidak berpuasa.

Kesembilan, di antara cara yang Allah memuliakan orang yang berpuasa, bahwa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama persis dengan orang yang berpuasa itu sendiri meski dengan sepotong roti atau seteguk air. Dalam satu riwayat Nabi bertutur, “seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadhan…meski hanya seteguk air.” (Hr. Abu Ya`la).

Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjamaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan bershalawat (memintakan ampunan) baginya. Mudah-mudahan kita termasuk bagian dari sepuluh keutamaan tersebut.*

* Penulis adalah pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang

hidayatullah.com

HIKMAH PUASA DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

Oleh: Fajar Adi Kusumo

Manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”
(QS. Ali Imran : 191)

Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu :

“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”
(QS. Al Baqarah : 183)

Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :

a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)

Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.

Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

“Berpuasalah maka kamu akan sehat”
(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)

Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

“Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa”
(HR. Ibnu Majah)

Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain :

1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah “diet” yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu.

2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul “Al Islam wat Tibbul Hadits” menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb.

3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.

4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah.

b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat

Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima.

Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :

“Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya”
(HR. Turmudzi).

Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul”
(HR. Ibnu Majah)

Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu :

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :

“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya.”
(HR. Bukhari)

Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :

Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :

“Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk”
(HR. Bukhari)

Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin.

Daftar Pustaka :

– M. Noor Matdawam, Ibadah puasa dan amalan-amalan di Bulan Suci Ramadhan

– M Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama

– Maftuh Ahnan, Mutiara Hadits Shahih Bukhari

– Al Qur’an

http://www.f-adikusumo.staff.ugm.ac.id

HIKMAH PUASA RAMADHAN

Oleh: Ustadz Syed Hasan Alatas

” Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS.al-Baqarah:183)

PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah, karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.

RAMADHAN bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan saja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda, malah dibulan Ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim, yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.

Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb.

Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari, karena mematuhi perintah Allah. Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah s.w.t.

Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah:” Wahai orang-orang yang beriman “ dan disudahi dengan: ” Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa.” Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan. Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan, melatih diri kita, menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum,mencampuri isteri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.

Rasullah s.a.w.bersabda:

“Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor.” (H.R.Ibnu Khuzaimah)

Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.

Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan
rohani dan jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia sahaja.

Allah berfirman yang maksudnya:

“Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS.al-A’raf:31)

Nabi s.a.w.juga bersabda:

“Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang.”

Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa mudarat kepada kesehatan kita. Boleh menyebabkan badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan Ramadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insya Allah kita akan bertemu kembali.

Allah berfirman yang maksudnya: “Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran pimpinan untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran itu, dan yang memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan) Ramadhan, hendaklah ia mengerjakan puasa.(QS.al-Baqarah:185)

http://www.shiar-islam.com

%d bloggers like this: